Tampilkan postingan dengan label teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teladan. Tampilkan semua postingan

Aktivitas-aktivitas Politik Hasan Al-Banna

Imam Hasan Al-Banna memimpin demonstrasi yang diprakarsai oleh Al-Azhar menuntut penyelesaian segera masalah-masalah yang menimpa Mesir.

Buku: Fikih Politik Menurut Imam Hasan Al-Banna.

Penulis: Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris.

***

Aktifitas-aktifitas politik yang pernah Beliau lakukan bersama para ikhwah, di antaranya:

1. Di sela-sela keberangkatan Naqrasy menemui Dewan Keamanan PBB, Imam Hasan Al-Banna mengundang seluruh lapisan masyarakat Mesir untuk mendatangi masjid-masjid sewaktu pelaksanaan shalat zhuhur untuk mendengarkan orasi umum membahas sengketa lembah sungai Nil, kemudian Imam Hasan Al-Banna memimpin demonstrasi yang diprakarsai oleh Al-Azhar menuntut penyelesaian segera masalah-masalah yang menimpa Mesir.
2. Imam Hasan Al-Banna mengirimkan telegram pada Naqrasyi guna memprioritaskan penundaan pembahasan sengketa lembah sungai Nil dan menuntutnya agar fokus terlebih dahulu pada pembatalan perjanjian 1936, menabuh genderang “jihad” mengusir secara paksa penjajah Inggris dari tanah Mesir serta pernyatan bahwa Ikhwanul Muslimin telah siap maju ke medan jihad.
3. Derasnya gelombang aksi protes, unjuk rasa dan demonstrasi rakyat Mesir membuat pemerintah Mesir dan pemerintah Inggris tertekan, sehingga memaksa mereka berpikir keras untuk bersedia membatalkan perjanjian dan nota kesepahaman 1936.
4. Aktifitas dan kerja politik lain yang dilakoni Imam Hasan Al-Banna adalah pengiriman delegasi-delegasi politik yang mengurus pembebasan Mesir dari penjajahan dan kolonialisme.
5. Pemusnahan semua hal yang berkaitan dengan Inggris di Mesir, ketika setiap anggota ikhwan di masing-masing provinsi mengumpulkan semua buku-buku, majalah-majalah dan surat kabar berbahasa Inggris setelah itu dibakar di lapangan-lapangan umum sebagai bentuk aksi protes terhadap kebijakan politik koloialis Inggris.
6. Penugasan delegasi-delegasi untuk menyerukan pemboikotan semua tulisan berbahasa Inggris serta pemusnahan semua spanduk, baliho dan papan pengumuman berbahasa Inggris yang terpampang di berbagai institusi, pusat-pusat perdagangan dan sebagainya, lalu menggantinya dengan spanduk-spanduk berbahasa Arab.

Penugasan divisi khusus Ikhwanul Muslimin yang berkonsentrasi melakukan pembelaan sengketa lembah sungai Nil untuk menyebarkan ke seluruh penjuru Mesir jutaan selebaran bergambar hati yang diberi warna merah dan ditengah-tengahnya tertulis kata “usir kaum penjajah!!!” hingga pada waktu yang telah ditentukan semua rakyat Mesir keluar dan berkumpul dengan menyangkutkan tulisan tersebut di dada mereka. Sungguh merupakan pemandangan yang menarik.

Aksi Mogok dan Demonstrasi

Di antara bentuk pendidikan politik Imam Hasan Al-Banna dalam menghadapi peristiwa-peristiwa penting dunia perpolitikan Mesir adalah sebagai berikut:

* Imam Hasan Al-Banna pernah mengadakan rapat pembentukan panitia inti yang akan mendialogkan upaya perebutan secara paksa hak rakyat Mesir yang telah dirampas oleh imperealisme Inggris. Dialog tersebut diselengarakan pada tanggal 5 Februari 1946. Sebagai tindak lanjut dari hasil dialog tersebut berupa aksi protes dan demonstrasi menuju istana Abidin. Dalam demonstrasi tersebut mereka menuntut raja Faruq untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Mesir yang telah dirampas. Akibatnya, terjadi pembantaian besar-besaran di jembatan Abbas tanggal 9 Februari 1946. Segera setelah gelombang aksi protes yang dilancarkan, akhirnya rezim Neqrasyi tumbang, khususnya setelah gelombang aksi protes yang dikomandoi oleh Musthafa Mu’min, pimpinan mahasiswa Ikhwanul Muslimin di Universitas Al-Azhar.
* Keterlibatan Ikhwanul Muslimin dalam beberapa aksi protes dan demonstrasi di masa rezim pemerintahan Ismail Shidqy. Dalam aksi tersebut, mereka menuntut Ismail berupaya mengembalikan hak-hak rakyat Mesir yang telah terampas. Dua tuntutan utama mereka adalah pengusiran Inggris dari tanah Mesir dan menggalang persatuan guna menyelesaikan sengketa lembah sungai Nil.

Pengerahan massa guna melakukan unjuk rasa sebagai bentuk penegasan dan keseriusan tuntutan mereka atas instruksi dari Ikhwanul Muslimin pada tanggal 10 Mei 1946 dan tanggal 8 Juni 1946. Mereka juga mengungkapkan fakta-fakta yang menyuarakan dengan lantang kepada rakyat Mesir agar menuntut hak-hak mereka serta menolak perjanjian-perjanjian dengan penjajah Inggris serta instruksi melakukan pemboikotan total terhadap Inggris bidang ekonomi, pendidikan dan sosial.

Source: Eramuslim.com

Memaknai Hari Raya Qurban #02

(sambungan dari Memaknai Hari Raya Qurban #01)

assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
bismillahirrahmanirrahiim...
pembaca yang budiman, alhamdulillah, pagi ini penulis masih diberi kesempatan untuk saling beragi pemahaman, dan pastinya penulis sangat butuh masukan dari pembaca yang budiman...

ied mubarok...
marhaban yaa ied mubarok...

hari raya qurban (idul adha,pen), adalah hari raya akbar umat islam, banyak makna yang terkandung dari peristiwa ini, bukan hanya masalah menyembelih hewan ternak, atau mengingat peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS...
lebih dari itu, kita harus lebih bijak dalam memaknainya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd...
saudaraku pembaca yang budiman...
pada tulisan lalu sudah dua poin yang dibahas, sekarang mari kita lanjutkan.

3. Peristiwa Penyembelihan Ismail AS
lama Ibrahim diminta Allah menyebarkan agamaNya di negeri antah berantah, akhirnya ia diizinkan untuk pulang.
senangnya hati Ibrahim, ia bergegas ke tempat di mana ia meninggalkan Hajar dan Ismail.
Ismail sudah tumbuh menjadi remaja, betapa senang dan sayang Ibrahim terhadapnya.
Cukup lama Ibrahim memanjakan Ismail, namun kerinduan yang lama belumlah hilang, hingga turunlah firman Allah melalui mimpinya.
masygul, itulah keadaan hatinya, hingga ia pun bercerita pada Hajar dan Ismail, hajar diam.
Tapi respon berbeda ditunjukkan oleh Nabi Ismail AS, dia menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk memenuhi Perintah Allah, subhanallah.
meski kalau dilihat secara sudut pandang manusia biasa posisi Ismail adalah korban, namun ia begitu bersemangat untuk memenuhinya, itulah bukti CINTA yang tak terbatas pada Allah SWT.
Dan pada akhirnya mereka melaksanakan penyembelihan (panjang lagi ceritanya, tapi penulis tidak ingin berlama-lama pada cerita, mungkin bagi yang belum tahu, silahkan googling untuk mencari ceritanya).

Saudaraku pembaca yang budiman, betapa indahnya Cinta yang tulus dari orang-orang yang bertaqwa...
sekali lagi, TAK ADA SANGGAHAN SEDIKITPUN !!
mereka ikhlas melaksanakan segala perintah Allah, tak seperti Yahudi (Bani Israil) yang banyak bertanya ketika diberi perintah (karena tabi'at dan keingkaran mereka, baca: kisah nabi Musa).

Sekarang pilihlah, ingin mengikuti jejak Ibrahim dan Ismail dalam ketaatan atau malah mengikuti Yahudi la'natullah dalam pengingkaran ??

4.Memaknai Berbagi pada hari raya Qurban
BERBAGI !
itulah kata yang tepat untuk menggambarkan hari raya Qurban, miskin, kaya, tua, muda semua bisa menikmati daging (makanan yang dinilai cukup berkelas), terlepas dari halangan kesehatan untuk mengkonsumsinya dan terlepas dari aplikasi yang ada pada saat ini.
Begitulah mulianya islam, semua nilai kemaslahatan ummat ada di sini, bukan hanya bagi ummat manusia, tapi alam ini juga merasakan indahnya hidup bila islam benar-benar diterapkan.
Setahun sekali kita berbagi daging dengan semua umat islam (selayaknya tidak ada yang tidak mendapatkan), tak ada pengeculian, asalkan mereka muslim.
11, 12, 13 Dzulhijjah, umat islam dilarang berpuasa, karna hari-hari ini kita gunakan untuk silaturahim dan menikmati daging qurban.
Sekarang, dunia bagai dipecah dua faham (selain islam yang mulia), liberal dan sosialis.
setelah ditinjau dari hikmah Qurban, ternyata islam sangat komplit, dua paham tersebut bisa dikatakan "terakomodir", paham sosialis, semua sama, dapat daging qurban, jatah untuk jamaah sama, tak berbeda.
paham liberal, di mana pemilik modal dapat kelebihan, begitulah, peserta Qurban dapan kupon peserta selain kupon jamaah.
luar biasa, lalu kenapa masih ada juga yang memilih paham selain islam bila islam telah lengkap dan sempurna?? entahlah, semoga Allah memberi hidayah...

Pada akhirnya saudaraku, tiap-tiap peringatan, janganlah kita jadikan sekedar ceremonial belaka, ada hikmah dan ibrah yang harus kita ambil dan kita tanamkan pada diri kita sebagai seorang insan yang beriman...

Wallahua'lam bisshawab, Allah maha tahu atas segala hikmah dan ibrah, karna penulis hanya mencoba meraba hikmah dan ibrahnya...

Atas segala Khilaf penulis mohon maaf...tolong sampaikan kritik dan saran ke blog ini.
semua kebenaran datangnya dari Allah, Rabbi izzati...
bila ada manfaat silakan diambil dan boleh disebarluaskan...

Jazaakumullah...

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd...

Memaknai Hari Raya Qurban #01

assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
bismillahirrahmanirrahiim...
pembaca yang budiman, alhamdulillah, pagi ini penulis masih diberi kesempatan untuk saling beragi pemahaman, dan pastinya penulis sangat butuh masukan dari pembaca yang budiman...

ied mubarok...
marhaban yaa ied mubarok...

hari raya qurban (idul adha,pen), adalah hari raya akbar umat islam, banyak makna yang terkandung dari peristiwa ini, bukan hanya masalah menyembelih hewan ternak, atau mengingat peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS...
lebih dari itu, kita harus lebih bijak dalam memaknainya.

1. Memaknai peristiwa ditinggalkannya Hajar dan Ismail AS
lama Rasul nan hanif menunggu keturunannya, hingga beliau tua renta, ia pun bermunajat pada Allah, karena takut tak memiliki generasi penerus, agar bisa meneruskan Risalah tauhid...
akhirnya beliau mendapatkan seorang putra, Ismail AS...di tengah rasa cinta dan senang yang begitu besar, Sang Nabi diminta untuk meninggalkan istri dan anaknya, di sebuah padang tandus, dan karena perintah itu dari Allah SWT, maka beliau menurutinya.
apa maknanya saudaraku?
jangan pernah berfikir, di sini Allah kejam terhadap Ibrahim, pahamilah, ada atau tidak ada Ibrahim di sisi anak dan istrinya, tetap saja, yang maha menjaga dan memberi rizki itu adalah Allah SWT.
Teladan, itulah yang ditunjukkan oleh Rasul kita tersebut, tak ada keraguan padanya ketika Allah memerintahkannya, ratusan tahun ia menantikan putra, ketika dapat, ia harus meninggalkan, inilah bukti ikhlas seikhlas-ikhlasnya...
Sahabat pembaca yang budiman, sekarang tanyakan pada diri kita, sudah berapa kali kita tahu dan mendengar peristiwa ini?
sudah kah kita memaknainya? sudahkah kita berupaya untuk menajalankan hikmahnya?
penulis jadi teringat, pesan (cerita) dari seorang ustadz yang mengisahkan kejadian pada keluarga Imam Syahid Hasan Albanna, ketika anaknya sedang sakit, dan ia harus mengisi pengajian. Sang imam rahimahullah berkata pada istri dan anaknya, "ada atau tiada diriku, tidak akan mampu menyembuhkan anakku, karna Allah lah yang maha menyembuhkan...maka izinkan aku untuk tetap berdakwah" (afwan, kira2 seperti itulah yang dikatakan). dan luar biasa, karna dakwah sudah menjadi keseharian mereka, maka tidak ada pertentangan, ikhlas. Benarlah kiranya konsep itu, dengan keikhlasan itu Allah ridho terhadap beliau, hingga kesembuhan anaknya sudah menjadi jaminan dari Rabbi izzati.
saudaraku pembaca yang budiman, betapa indahnya bila kita (yang sudah tahu sebenarnya) bila masuk ke dalam islam secara kaffah, berislam berarti menyerahkan semua urusan (yang tidak ada kuasa kita) kepada Allah, dari masalah JODOH, RIZKI, dan MAUT sekalipun.

2. Memaknai peristiwa munculnya zam-zam
saudara pembaca yang budiman...
sepeninggal Ibrahim AS, kedua insan mulia tadi mengalami kehausan yang begitu dahsyat, Ismail AS merengek sejadi-jadinya minta air minum.
Hajar r.a.pun bingung, ke mana harus mencari air di tengah gurun pasir tandus itu, terlihatlah olehnya di kaki bukit ada seperti oase (kaki bukit syafa), maka ia kejar, sesampainya di sana, ternyata itu hanyalah fatamorgana, dengan kebingungan karna tangisan Ismail, ia kembali mencari, dan terlihat lagi di kaki bukit marwa ada oase, dan itu juga hanya fatamorgana, begitulah terus.
Ismail yang kehausan terus merengek, dan menghentak-hentakkan kakinya di pasir, dan luar biasa, sebuah mata air menyembur dari bekas hentakan kaki Ismail AS, Hajar pun berteriak," zami zami...!"... seraya bersyukur pada Allah, ia pun mengambil air tersebut untuk diminum oleh Ismail AS.
saudaraku pembaca yang budiman, lalu apa ibrah yang dapat kita petik dari kejadian ini?
bukannya tanpa dicari ke sana ke mari Hajar bisa saja minta langsung tanpa usaha pada Allah, karna posisinya sebagai istri seorang Rasul mulia.
Dan tidak mustahil bagi Allah untuk langsung memberikan apa yang dibutuhkan oleh mereka.
Tapi tidak, sesungguhnya Allah ingin menunjukkan, bahwa pertolongan Allah itu tidak datang serta merta, butuh kesabaran, ketawakalan, dan pengorbanan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah, siapapun kita.
Begitu juga kejadian (peristiwa) ketika Maryam (ibunda Nabi Isya AS) diusir warga, dan dalam kehausan yang teramat sangat, Allah tak langsung memberikan minuman, namun Allah memerintahkan beliau untuk menghentakkan kakinya ke sebuah pohon (kelapa), maka jatuhlah buahnya, dan kebutuhan Maryam pun terpenuhi.
Saudaraku pembaca yang budiman, lihatlah, pribadi-pribadi yang kesholehannya tak diragukan lagi saja masih saja harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu, tidak instan, pantaskah kita berharap pertolongan instan dari Allah atas masalah kita tanpa doa, usaha, dan tawakkal pada-Nya ???
pahamilah saudaraku, Allah tak akan merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak merubahnya !
Renungkan, dan mulailah untuk berusaha...

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd...

(bersambung ke Memaknai Hari Raya Qurban #02)

sebuah perubahan kepemimpinan....

Saudaraku, Khalid bin Walid adalah seorang pangliam perang yang tangguh, tak ada satupun bangsa arab ketika itu yang meragukannya...
ingat, dialah yang telah menyerang balik pasukan muslim di uhd setelah kelalaian pasukan muslim.
Begitu juga ketika beliau telah masuk k dalam islam yang kaffah, beliau jadi seorang panglima perang yang besar.
Ketika nama beliau sedang di puncak kejayaan, dan banyak orang mempercayakan, Sayyidina umar malah memberhentikannya.
apa sebab?
karena sayyidina Umar tidak ingin kekaguman sebagian kaum muslimin pada Khalid menyebabkan mereka syirik.
setelah diperhatikan secara saksama, bukan hanya hal itu yang terkandung dalam pemberhentian ini.
Di sini kita mengambil hikmah, ada masalah yang urgen sebenarnya yang terajdi pada beberapa wajihah saat ini.

1. ketergantungan pada dakwah figuritas.
saudaraku, terkadang (dalam beberapa saat), dakwah figuritas sangat memegang penting, agar adanya rasa ketertarikan dari non-kader maupun kader untuk berafiliasi aktif di dalam sebuah wajihah. sebagai contoh, seorang ikhwan yang menjabat sebagai ketua di suatu wajihah akan lebihdipandang kata-katanya dan ajakannya daripada anggota wajihahnya. Pada awalnya bagus, tapi lama kelamaan, hal ini jadi ketergantungan, karena motivasi utama orang-orang yang berafiliasi tadi adalah figur yang dikagumi atau disegani. contoh kasus, beberapa orang yang berafiliasi pada dakwah kampus, menjadi lemah semangatnya, ketika sang figur tak lagi berafiliasi secara aktif di kampus.
hikmah yang di ambil dari apa yang diambil oleh Sang Khalifah bisa kita renaungkan sebagai solusi, bagaimana beliau ingin menampilkan figur-figur lain, agar figur Khalid tak begitu sentral lain.
Hal ini juga telah banyak dilakukan oleh jama'ah kita (hizb), ketika terjadi pergantian Presiden hizb, tokoh yang terpilih adalah orang yang selama ini namanya tak begitu akrab di telinga masyarakat luas ataupun kader yang di grass root, meskipun banyak komentar negatif (memilih tokoh tak populis lah, dsb), hizb tetap tak bergeming, karna pada dasarnya, tokoh tersebut juga adalah orang yang kapabel dalam hal memimpin. Hal ini menghilangkan keidentikan seorang individu dengan sebuah wajihah dakwah. Hingga mengurangi kesan dakwah figuritas tadi.
mungkin bagi wajihah yang telah terinfeksi virus ganas ini (penulis anggap ini merupakan sebuah virus), menghentikan figuritas ini berat, bisa kehilangan banyak kader maupun simpatisan, tapi ini harus dilakukan, agar tak ada lagi ketergantungan pada seorang kader. karna targetan suatu wajihah dakwah, buakn jangka pendek untuk seathun atau dua, tapi bagaimana wajihah tersebuat bisa exis hingga akhir zaman, dan menjadi salah satu pilar tegaknya bangunan islam.

2. regenerasi dakwah.
saudaraku, regenerasi adalah keniscayaan yang harus ada dalam suatu wajihah, apapun wajihah tersebut, bila ingin bertahan lama. berkaca dari sebuah pohon, daun-daun tua gugur dan digantikan daun muda, apakah setelah gugur daun tua tak berkontribusi? pastinya masih berkontribusi, ia menjadi pupuk organik yang menjadi mineral bagi tumbuh kembangnya daun-daun baru.
tentu saja, bila berbicara regenerasi, kita berbicara tentang pengkaderan (baca: kaderisasi).
perhatikan apa yang dilakukan oleh sayyidina Umar, beliau mengganti Khalid dengan seorang panglima yang baru dan lebih muda.
hal ini regenerasi bukan? karna adanya kaderaisasi kan?
pengganti beliau ( Abu Ubaidah ) pastinya sudah ikut dalam banyak perang yang dipimpin oleh khalid, meskipun minim pengalaman komando.
ingat apa yang dikatakan oleh Asy-syahid Imam Hasan Al-Banna ketika ada sahabat beliau menanyakan siapa yang akan menggantikannya ketika beliau wafat, beliau menjawab... angkatlah orang terlemah diantara mu, dan dukunglah ia hingga iya menjadi kuat.
begitulah semestinya kita berprilaku (baca: mengambil kebijakan) dalam wajihah yang masih bagian dari jamaah ini, jangan sampai kita takut-takut untuk melakukan regenerasi, karna hal ini penting.
ketakutan-ketakutan yang ada inilah yang membuat dakwah ini berlangsung stagnan atau malah menurun (mengenai pembahasan stagnansi ini akan penulis bahas pada bahasan lain /*doakan saja Allah masih akan memberikan limpahan rahmatNya hingga penulis bisa menulisnya*/ ).
berkat pertukaran tadi, strategi yang fresh dan penuh inovasi barupun terlahir, bagaimana beliau memotivasi seluruh masyarakat madinah untuk berjihad (baca kisah abu ubaidah di tulisan lain /*hasil copas*/).
kehidupan dakwah pun tetap bisa berlanjut dan berkesinambungan setelah turunnya Khalid yang akhirnya menutup usia pada usia 50 th.
apa jadinya bila tidak dilakuakn regenerasi? entahlah, bisa jadi karna ketergantungan terhadap kepemimpinan Khalid, para mujahidin akan tergoncang dengan kepergian beliau.

nah, begitulah Rasul dan para Sahabat mengajarkan kita, tinggal sekarang, bagaimana kita memaknainya...

Wallahua'lam bishshawab.

dari berbagai sumber...

NB: Kalo bermanfaat silakan disebarkan dengan mengCopy Paste, kalo mau komen dan ada banyak khilaf, silakan di sini...