Source: Eramuslim.com
oleh Abdul Mutaqin
Rasa takut (khauf) dianggap manusiawi. Berarti, manusia dianggap wajar memiliki rasa takut. Apabila rasa takut hilang sama sekali, hilang pula naluri kewaspadaan. Jika kewaspadaan hilang, manusia menjadi amat ”gesit” sehingga ia tidak menyadari bahwa ia tengah bermain-main dalam area berbahaya. Ini bisa membuat nyawa melayang. Ngeri.
Sebaliknya, rasa takut yang amat dominan adalah virus ruhani yang melumpuhkan. Kesalehan apa yang dapat diproduksi jika manusia selalu tegang, curiga, gemetar dan selalu menutup wajah dengan kedua belah telapak tangan di pojok khayal rasa takut? Akhirnya malah stres atau hilang ingatan. Sama saja jiwa telah ”mati dalam hidup”. Tak kalah ngeri.
Ada waktu di mana manusia harus menyertakan rasa takut seperti ketika ia berdo’a meminta kepada Tuhannya (QS. Al-A’raaf [7] 55 dan 56). Ada rasa takut yang yang harus dihadapi dan diusir dengan meminta pertolongan Tuhan. Bahkan seorang Nabi Ibrahim as. pernah merasa takut ketika datang ”tamu” kepadanya (QS. Huud [11] : 47, QS. Al-Hijr [15]: 52, ). Atau Nabi Musa as. juga memiliki rasa takut atas perlakuan penduduk kota terhadapnya (QS. AL-Qasas [28] 18, 21). Atau Nabi Daud as. menyimpan rasa takut tatkala orang yang berperkara datang kepadanya (QS. Shaad [38] : 22). Begitu pula saat Rasul dan pengikutnya ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?"(QS.Al-Baqarah [2] : 214).
Sesuatu yang ditakar wajar dan pas akan membawa manfaat. Begitu pula rasa takut. Biarkan rasa takut ada sebagai respon wajar atas sunnatullah fil kaun seperti takut gagal yang memacu ketekunan dan kegigihan. Takut jatuh sakit yang membentuk disiplin berolah raga dan menjaga kesehatan. Takut ditinggal pasangan hidup yang meningkatkan frekuensi kemesraan dan pelayanan terbaik. Atau takut pada kematian yang menggenjot amal soleh dan frekuensi ibadah. Begitu seterusnya. Dalam konteks ini, rasa takut disebut sebagai cobaan yang harus disikapi dengan kesabaran sebagaimana disinggung QS. Al-Baqarah 155.
Jangan pernah bermain dengan rasa takut yang bersipat khayali dan dilebih-lebihkan. Apalagi ketakutan yang dibangun karena sebab ketidakpuasan atas sunnatullah fil kaun. Takut keriput dan tak menawan lagi lalu mengubah ciptaan dengan mendesain ulang payu dara, bokong, bibir, hidung atau dagu palsu hasil operasi. Takut kalah bersaing dalam bisnis atau dalam pangkat dan jabatan lalu mencari ”penglaris” dan teken kontrak dengan dukun. Takut hidup sengsara karena suami telah bangkrut lalu minggat dengan lelaki lain tanpa menimbang rasa dan perasan dosa. Begitu seterusnya hingga rasa takut semakin menyiksa batin dan bikin cape sendiri.
Apa yang seharusnya dilakukan ketika rasa takut datang menghampiri? Maka lihatlah rasa takutnya, apakah rasa takut yang wajar, rasa takut yang tidak beralasan atau rasa takut yang justeru merusak. Maka kembali pada dasar keyakinan iman, sabar dan tawakkal adalah cara yang paling ampuh untuk mengatasinya. Bahkan teramat penting mampu mendesain rasa takut sebagai daya dorong ke arah yang positif. Para nabi dan orang-orang besar panutan kita juga memiliki rasa takut juga. Patutlah kita belajar dari mereka.
Siapa di antara kita tak kenal Umar bin Khattab yang sangat pemberani? Sebelum Islam, orang Arab menyebutnya "Si kidal yang pemberani". Petarung pasar Ukasy yang selalu menang menaklukkan ”preman” Arab kala itu. Namun setelah Islam dan menjadi Khalifah dia termasuk orang yang sangat penakut. Takut terhadap pertanggung jawaban kepemimpinannya di hari perhitungan kelak.
Karena takutnya, hampir setiap malam dia ngeluyur ke tengah-tengah kampung keluar masuk lorong untuk mengetahui langsung apa yang terjadi pada rakyatnya. Takut kalau-kalau ada rakyatnya yang kelaparan, sakit atau sedang ditimpa ”kesialan” hidup. Dalam satu ronda malamnya itu, sampailah Ia di rumah kecil milik seorang janda miskin dan menangkap dialog si pemilik rumah. Dialog seorang ibu dan anak gadisnya soal kejujuran dalam kemiskinan yang menggetarkan hatinya.
”Nak, sebaiknya kita mencampur susu yang akan dijual besok dengan air karena sedikit sekali hasil perahan yang diperoleh tadi siang. Kalau tidak kita campur, bakal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan untuk hari ini”.
Anak gadis janda itu tidak setuju dengan pendapat orang tuanya dengan alasan khalifah melarang keras perbuatan curang.
”Tidak apalah sekali ini, anakku. Toh khalifah tidak juga mengetahui pebuatan kita ini".
"Bunda, khalifah Umar dapat saja tidak mengetahui. Tapi, Tuhannya Umar pasti mengetahuinya. Pikirkanlah, jangan sampai ibu berbuat demikian. Takutlah kita kepada murka Allah".
Peristiwa yang terjadi menjelang subuh itu melelehkan air mata Umar. Ia menangis haru.
Ada satu lagi Umar yang juga memelihara rasa takut. Adalah Umar bin Abdul Aziz, khalifah ke delapan Daulah Bani Umayyah ini mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilihi rooji’uun sesaat setelah dibai’at sebagai khalifah. Beliau amat takut dengan tanggung jawab atas jabatan yang dibebankan kepadanya. Takut murka Allah apabila ia tidak amanah sebagai kepala pemerintahan. Dalam pidatonya beliau menyatakan :
”Wahai hadirin sekalian, aku telah dibebani tugas dan tanggung jawab yang sangat berat, padahal tanpa terlebih dahulu meminta pendapatku. Jabatan ini juga bukan atas permintaanku. Aku membebaskan kalian dari membai’atku. Silahkan kalian memilih orang yang kalian sukai untuk menjadi khalifah”.
’Ajiib. Rakyat justeru semakin tertarik dan berbondong-bondong membai’atnya. Hingga Umar pulang dan menumpahkan tangisnya. Isterinya; Fatimah, keheranan dan bertanya apa sebab tangisnya membuncah. Umar menjawab:
”Aku telah dipilih menjadi khalifah. Aku melihat di pelupuk mata beban berat di pundakku atas penderitaan orang-orang miskin dan lemah”.
Sejarah mencatat Umar bin Abdul Aziz dengan tinta emas. Kewibawaan, kejujuran dan keadilannya dalam menjalankan roda pemerintahan menempatkannya sebagai khalifah yang disegani dan dicintai segenap rakyat. Kepalanya adalah akal bijak, dadanya adalah keberanian seorang pahlawan, kecerdasannya adalah ke’aliman dan kefaqihan dan mulutnya bak lidah sastrawan. Pada masa pemerintahannya yang tidak lebih dari tiga tahun, beliau sukses melebarkan sayap dakwah dan Daulah Islamiyah hingga Maroko, Aljazair, Tunisia, Tripoli, Mesir, Hijaz, Najed, Yaman, Suriah, Palestina, Yordania, Libanon, Iraq, Armenia, Afghanistan, Bukhara sampai Samarkand.
Namun dalam capaian keberhasilannya, Umar lebih memilih kesederhanaan. Umar tinggal di sebuah rumah kecil yang tidak lebih bagus dari rumah penduduk pada umumnya. Tidak heran, setiap utusan negara lain ingin menemuinya merasa heran seolah tidak percaya bahwa Umar seorang kepala negara tetapi memilih tinggal di rumah yang kecil dan jelek.
Beliau amat takutnya dengan sesuatu yang menyangkut kepentingan publik dalam jabatannya. Bahkan beliau begitu berhati-hati soal fasilitas negara meskipun itu hanyalah sebatang lilin. Pernah seorang gubernur menghadap untuk menyampaikan berbagai hal tentang jalannya roda pemerintahan dan keadaan rakyatnya. Semuanya dilaporkan dalam keadaan baik. Maka sang gubernur balik bertanya hal ihwal khalifah. Bagaimana keadaannya, kesehatannya dan bagaimana pula kesejahteraan keluarganya. Serta merta Umar mematikan lilin dan meminta pelayan menyalakan lampu dari rumahnya. Tentu saja hal tersebut membuat gubernur heran seraya bertanya mengapa khalifah melakukan hal tersebut. Dengan santainya Umar menjawab:
”Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu membelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin."
Subhanallah, ’ajiib.
Ini adalah akumulasi buah dari rasa takut yang dimiliki oleh gadis miskin di sudut kota yang menarik hati Khalifah Umar Ibnu Khattab ketika beliau ronda malam. Umar bin Khattab lalu menikahkan putranya Ashim dengan gadis itu. Dari pernikahan itu lahirlah seorang Laila yang tumbuh dalam iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’aala. Gadis suci dan cantik itu kemudian dipersunting oleh seorang yang tepandang di Madinah karena iman dan taqwanya pula, Abdul Aziz bin Marwan. Dari rahim Laila dan wibawa Abdul Aziz bin Marwan, lahir seorang pemimpin Arab. Dialah Umar bin Abdul Aziz yang kemudian menjadi khalifah mewarisi kepemimpinan kakeknya; Umar Ibnu Khattab. Benarlah ungkapan ”like son like father”.
***
Khauf (rasa takut) memiliki kedudukan istimewa dan bermanfaat bagi hati. Tentulah takut yang dimaksud adalah rasa takut kepada Allahu Rabbul Jalaal wal Ikraam. Bahkan, perasaan takut dalam konteks ini merupakan suatu hal yang wajib ada pada diri setiap orang. “… karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (terjemah QS. Ali Imran; 175). “Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (terjemah QS. Al-Baqarah [2]: 40). Dalam ayat lain Allah memerintahkan kita agar jangan takut kepada manusia, “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.” (terjemah QS. Al-Maidah [5]: 44).
Jika rasa takut kepada Allah tertanam kuat di dalam hati seseorang, maka ia akan menjadi benteng yang dapat menghalangi seseorang dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah. Bentuknya dapat saja jelmaan dari sifat wara’ atau disiplin memelihara diri dari kemungkinan melakukan hal yang diduga kuat dapat menyeret kepada perbuatan haram.
Berbahagialah orang yang masih menyisakan rasa takut kepada Rabb-nya seperti rasa takutnya dua Umar. Refleksi atas pemaknaan 1 Muharram 1431 H.
Allahu a’lam.
Depok, Desember 2009
abdul_mutaqin@yahoo.com
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Hasan Albanna
Diposting oleh
rindu akan sebuah cinta....
on Jumat, 11 Desember 2009
Syeikh Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906, yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan secara Islam itulah maka ia boleh berkata: “Hanya Islamlah ayah kandungku.” Hal itu kerana rasa cintanya terhadap ajaran Islam, kerana ajaran itulah yang membentuk watak dan keperibadiannya.
Ayah kandungnya sendiri adalah Syeikh Ahmad Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan as-Sa’ati, atau si tukang jam.
Hasan Al-Banna hafal 30 Juz kitab suci Al-Quran, padahal umur beliau pada saat itu baru 20 tahun. Ketika umur yang sekian itu beliau berhasil menginsafkan Syeikh Abdul Wahab Jandrawy, Pemimpin (Syeikh) Al-Azhar University yang mempunyai pengaruh besar pada segenap lapisan masyarakat dan mempunyai hubungan yang akrab dengan berbagai pihak.
Namun Syeikh yang banyak ilmunya itu tidak mempunyai roh jihad membela rakyat dan Islam dari kezaliman Raja Farouk dan penjajah Inggeris. Kecuali Syeikh Jandrawy ini adalah seorang pemimpin Sufi yang mempunyai banyak pengikut setiap malam berzikir dan berselawat dengan nyanyian-nyanyian khusus ahli Thariqat, tetapi mereka tidak mengerti sama sekali bahawa mereka itu terkurung oleh suasana yang diliputi kejahilan dan kejumudan umat. Mereka jauh dari semangat dan keagungan Islam kerana suasana kemunduran umat yang membelenggu.
Pada tahun 1927, ketika Hasan Al-Banna baru berusia 21 tahun, beliau telah lulus dari Perguruan Darul Ulum Mesir, beliau terus mengajar di Ismailiyah. Di Ismailiyah beliau semakin mengerti suasana rakyat Mesir yang telah sempurna rosaknya. Amat nyata perbezaannya antara kehidupan bangsa Mesir yang menjadi pekerja kasar dengan rumah serta perkampungan yang buruk; dengan kehidupan orang-orang kulit putih yang menempati gedung-gedung megah dengan segala keangkuhannya. Kecuali kemiskinan dan kebodohan, rakyat juga banyak yang rosak moralnya kerana pengaruh kehidupan Barat yang sengaja direka oleh kaum penjajah untuk menghancurkan rakyat Mesir dari segi yang lain.
Dalam suasana yang demikian itulah Hasan Al-Banna mendirikan suatu jemaah yang dinamakan “Al-lkhwanul Muslimin” (Persaudaraan orang-orang Muslim) pada bulan Dzul Kaedah 1347 Hijrah (Mac 1928) yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Semangat kedua beliau itulah sebagai rantai yang menyambung kepada cita yang diinginkan oleh Hasan Al-Banna beserta kawan kawannya di dalam membentuk organisasi tersebut.
Adapun khiththah gerakan lkhwanul Muslimin yang menuju cita yang diredhai Allah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW itu melalui tahapan yakni:
1. Membentuk peribadi Muslim
2. Membentuk rumahtangga dan keluarga Islam
3. Cara hidup kampung Islam
4. Menuju kepada negeri Islam
5. Menuju kepada pemerintahan Islam.
Gerak Ikhwanul Muslimin meliputi segala bidang dakwah, mulai pendidikan terhadap anak-anak, pelajaran Al-Quran bagi orang dewasa, pendidikan keluarga, bidang sosial walaupun nampaknya sederhana sekalipun, dari kampung-kampung sampai kepada Universiti di kampus-kampus, mulai artikel sampai penerbitan buku dan majalah-majalah, sampai kepada urusan politik dalam amar makruf nahi mungkar, dan sebagainya.
Sampai kepada Muktamar Ikhwanul Muslimin yang ketiga tahun 1934, tampak tokoh-tokoh intelektual dan para ulama terkenal yang menjadi anggota dan pendukung Ikhwan, seperti Syekh Thanthawi Jauhari, seorang ahli tafsir terkenal dan Guru Besar. Kemudian Sayid Quthub, Dr. Abdul Qadir Audah, seorang Hakim terkenal, dan juga Dr. Hasan Al-Hadlaiby, dan sebagainya.
Syeikh Hasan Al-Banna bersama kawan-kawannya tidak mampu berdiam diri menghadapi kekuasaan Raja Farouk yang telah tenggelam dalam kemabukan, rasuah, dan sewenang-wenang. Perbezaan pendapat, perselisihan, dan akhirnya pertentangan dengan penguasa yang aniaya dan dibantu oleh kekejaman penjajah Inggeris tidak dapat dihindarkan.
Tentu saja penyokong Kerajaan bekerja keras untuk dapat mengawasi gerak-geri para anggota Ikhwanul Muslimin. Kaum Imperialis Inggeris pula di dalam mencelakakan Ikhwanul Muslimin mempunyai peranan yang sangat besar.
Akhirnya pada pagi hari tanggal 13 Februari 1949 beliau memanggil puteranya. Kemudian beliau bercerita kepada puteranya itu bahawa semalam beliau bermimpi merasa dikunjungi Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata kepada beliau: “Wahai Hasan, kamu telah menunaikan kewajipan, semoga amalmu diterima oleh Allah.”
Kemudian pada petang harinya, beliau meninggalkan rumah bersama kawan-kawan seperjuangan pergi menunaikan tugas. Tiba-tiba beliau di tembak oleh seorang anggota Polis kakitangan Raja Farouk, dan tersungkurlah beliau di tepi jalan Kairo, dan beliau menemui syahidnya setelah sampai di hospital.
Beliau meninggal dunia kerana ditembak di pinggir jalan raya, dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Bahkan pembunuhnya mendapat hadiah dari Raja Farouk.
Jenazah beliau hanya disolatkan oleh ayah beliau sebagai Imam dan anak lelaki beliau sebagai makmum. Hanya dua orang. Kerana di sekeliling rumah beliau dijaga ketat oleh askar negara untuk melarang siapapun masuk rumahnya memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.
Hasan Al-Banna
Dipublikasi pada Selasa, 23 September 2003 oleh abufaiz97
Artikel ini telah dibaca 1596 kali.
Topik: Kisah Tokoh Islam
Kisah Tokoh Islam Syeikh Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906, yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan secara Islam itulah maka ia boleh berkata: “Hanya Islamlah ayah kandungku.”
----------
Syeikh Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906, yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan secara Islam itulah maka ia boleh berkata: “Hanya Islamlah ayah kandungku.” Hal itu kerana rasa cintanya terhadap ajaran Islam, kerana ajaran itulah yang membentuk watak dan keperibadiannya.
Ayah kandungnya sendiri adalah Syeikh Ahmad Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan as-Sa’ati, atau si tukang jam.
Hasan Al-Banna hafal 30 Juz kitab suci Al-Quran, padahal umur beliau pada saat itu baru 20 tahun. Ketika umur yang sekian itu beliau berhasil menginsafkan Syeikh Abdul Wahab Jandrawy, Pemimpin (Syeikh) Al-Azhar University yang mempunyai pengaruh besar pada segenap lapisan masyarakat dan mempunyai hubungan yang akrab dengan berbagai pihak.
Namun Syeikh yang banyak ilmunya itu tidak mempunyai roh jihad membela rakyat dan Islam dari kezaliman Raja Farouk dan penjajah Inggeris. Kecuali Syeikh Jandrawy ini adalah seorang pemimpin Sufi yang mempunyai banyak pengikut setiap malam berzikir dan berselawat dengan nyanyian-nyanyian khusus ahli Thariqat, tetapi mereka tidak mengerti sama sekali bahawa mereka itu terkurung oleh suasana yang diliputi kejahilan dan kejumudan umat. Mereka jauh dari semangat dan keagungan Islam kerana suasana kemunduran umat yang membelenggu.
Pada tahun 1927, ketika Hasan Al-Banna baru berusia 21 tahun, beliau telah lulus dari Perguruan Darul Ulum Mesir, beliau terus mengajar di Ismailiyah. Di Ismailiyah beliau semakin mengerti suasana rakyat Mesir yang telah sempurna rosaknya. Amat nyata perbezaannya antara kehidupan bangsa Mesir yang menjadi pekerja kasar dengan rumah serta perkampungan yang buruk; dengan kehidupan orang-orang kulit putih yang menempati gedung-gedung megah dengan segala keangkuhannya. Kecuali kemiskinan dan kebodohan, rakyat juga banyak yang rosak moralnya kerana pengaruh kehidupan Barat yang sengaja direka oleh kaum penjajah untuk menghancurkan rakyat Mesir dari segi yang lain.
Dalam suasana yang demikian itulah Hasan Al-Banna mendirikan suatu jemaah yang dinamakan “Al-lkhwanul Muslimin” (Persaudaraan orang-orang Muslim) pada bulan Dzul Kaedah 1347 Hijrah (Mac 1928) yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Semangat kedua beliau itulah sebagai rantai yang menyambung kepada cita yang diinginkan oleh Hasan Al-Banna beserta kawan kawannya di dalam membentuk organisasi tersebut.
Adapun khiththah gerakan lkhwanul Muslimin yang menuju cita yang diredhai Allah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW itu melalui tahapan yakni:
1. Membentuk peribadi Muslim
2. Membentuk rumahtangga dan keluarga Islam
3. Cara hidup kampung Islam
4. Menuju kepada negeri Islam
5. Menuju kepada pemerintahan Islam.
Gerak Ikhwanul Muslimin meliputi segala bidang dakwah, mulai pendidikan terhadap anak-anak, pelajaran Al-Quran bagi orang dewasa, pendidikan keluarga, bidang sosial walaupun nampaknya sederhana sekalipun, dari kampung-kampung sampai kepada Universiti di kampus-kampus, mulai artikel sampai penerbitan buku dan majalah-majalah, sampai kepada urusan politik dalam amar makruf nahi mungkar, dan sebagainya.
Sampai kepada Muktamar Ikhwanul Muslimin yang ketiga tahun 1934, tampak tokoh-tokoh intelektual dan para ulama terkenal yang menjadi anggota dan pendukung Ikhwan, seperti Syekh Thanthawi Jauhari, seorang ahli tafsir terkenal dan Guru Besar. Kemudian Sayid Quthub, Dr. Abdul Qadir Audah, seorang Hakim terkenal, dan juga Dr. Hasan Al-Hadlaiby, dan sebagainya.
Syeikh Hasan Al-Banna bersama kawan-kawannya tidak mampu berdiam diri menghadapi kekuasaan Raja Farouk yang telah tenggelam dalam kemabukan, rasuah, dan sewenang-wenang. Perbezaan pendapat, perselisihan, dan akhirnya pertentangan dengan penguasa yang aniaya dan dibantu oleh kekejaman penjajah Inggeris tidak dapat dihindarkan.
Tentu saja penyokong Kerajaan bekerja keras untuk dapat mengawasi gerak-geri para anggota Ikhwanul Muslimin. Kaum Imperialis Inggeris pula di dalam mencelakakan Ikhwanul Muslimin mempunyai peranan yang sangat besar.
Akhirnya pada pagi hari tanggal 13 Februari 1949 beliau memanggil puteranya. Kemudian beliau bercerita kepada puteranya itu bahawa semalam beliau bermimpi merasa dikunjungi Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata kepada beliau: “Wahai Hasan, kamu telah menunaikan kewajipan, semoga amalmu diterima oleh Allah.”
Kemudian pada petang harinya, beliau meninggalkan rumah bersama kawan-kawan seperjuangan pergi menunaikan tugas. Tiba-tiba beliau di tembak oleh seorang anggota Polis kakitangan Raja Farouk, dan tersungkurlah beliau di tepi jalan Kairo, dan beliau menemui syahidnya setelah sampai di hospital.
Beliau meninggal dunia kerana ditembak di pinggir jalan raya, dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Bahkan pembunuhnya mendapat hadiah dari Raja Farouk.
Jenazah beliau hanya disolatkan oleh ayah beliau sebagai Imam dan anak lelaki beliau sebagai makmum. Hanya dua orang. Kerana di sekeliling rumah beliau dijaga ketat oleh askar negara untuk melarang siapapun masuk rumahnya memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.
(Sumber : www.daarut-tauhiid.org)
Ayah kandungnya sendiri adalah Syeikh Ahmad Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan as-Sa’ati, atau si tukang jam.
Hasan Al-Banna hafal 30 Juz kitab suci Al-Quran, padahal umur beliau pada saat itu baru 20 tahun. Ketika umur yang sekian itu beliau berhasil menginsafkan Syeikh Abdul Wahab Jandrawy, Pemimpin (Syeikh) Al-Azhar University yang mempunyai pengaruh besar pada segenap lapisan masyarakat dan mempunyai hubungan yang akrab dengan berbagai pihak.
Namun Syeikh yang banyak ilmunya itu tidak mempunyai roh jihad membela rakyat dan Islam dari kezaliman Raja Farouk dan penjajah Inggeris. Kecuali Syeikh Jandrawy ini adalah seorang pemimpin Sufi yang mempunyai banyak pengikut setiap malam berzikir dan berselawat dengan nyanyian-nyanyian khusus ahli Thariqat, tetapi mereka tidak mengerti sama sekali bahawa mereka itu terkurung oleh suasana yang diliputi kejahilan dan kejumudan umat. Mereka jauh dari semangat dan keagungan Islam kerana suasana kemunduran umat yang membelenggu.
Pada tahun 1927, ketika Hasan Al-Banna baru berusia 21 tahun, beliau telah lulus dari Perguruan Darul Ulum Mesir, beliau terus mengajar di Ismailiyah. Di Ismailiyah beliau semakin mengerti suasana rakyat Mesir yang telah sempurna rosaknya. Amat nyata perbezaannya antara kehidupan bangsa Mesir yang menjadi pekerja kasar dengan rumah serta perkampungan yang buruk; dengan kehidupan orang-orang kulit putih yang menempati gedung-gedung megah dengan segala keangkuhannya. Kecuali kemiskinan dan kebodohan, rakyat juga banyak yang rosak moralnya kerana pengaruh kehidupan Barat yang sengaja direka oleh kaum penjajah untuk menghancurkan rakyat Mesir dari segi yang lain.
Dalam suasana yang demikian itulah Hasan Al-Banna mendirikan suatu jemaah yang dinamakan “Al-lkhwanul Muslimin” (Persaudaraan orang-orang Muslim) pada bulan Dzul Kaedah 1347 Hijrah (Mac 1928) yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Semangat kedua beliau itulah sebagai rantai yang menyambung kepada cita yang diinginkan oleh Hasan Al-Banna beserta kawan kawannya di dalam membentuk organisasi tersebut.
Adapun khiththah gerakan lkhwanul Muslimin yang menuju cita yang diredhai Allah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW itu melalui tahapan yakni:
1. Membentuk peribadi Muslim
2. Membentuk rumahtangga dan keluarga Islam
3. Cara hidup kampung Islam
4. Menuju kepada negeri Islam
5. Menuju kepada pemerintahan Islam.
Gerak Ikhwanul Muslimin meliputi segala bidang dakwah, mulai pendidikan terhadap anak-anak, pelajaran Al-Quran bagi orang dewasa, pendidikan keluarga, bidang sosial walaupun nampaknya sederhana sekalipun, dari kampung-kampung sampai kepada Universiti di kampus-kampus, mulai artikel sampai penerbitan buku dan majalah-majalah, sampai kepada urusan politik dalam amar makruf nahi mungkar, dan sebagainya.
Sampai kepada Muktamar Ikhwanul Muslimin yang ketiga tahun 1934, tampak tokoh-tokoh intelektual dan para ulama terkenal yang menjadi anggota dan pendukung Ikhwan, seperti Syekh Thanthawi Jauhari, seorang ahli tafsir terkenal dan Guru Besar. Kemudian Sayid Quthub, Dr. Abdul Qadir Audah, seorang Hakim terkenal, dan juga Dr. Hasan Al-Hadlaiby, dan sebagainya.
Syeikh Hasan Al-Banna bersama kawan-kawannya tidak mampu berdiam diri menghadapi kekuasaan Raja Farouk yang telah tenggelam dalam kemabukan, rasuah, dan sewenang-wenang. Perbezaan pendapat, perselisihan, dan akhirnya pertentangan dengan penguasa yang aniaya dan dibantu oleh kekejaman penjajah Inggeris tidak dapat dihindarkan.
Tentu saja penyokong Kerajaan bekerja keras untuk dapat mengawasi gerak-geri para anggota Ikhwanul Muslimin. Kaum Imperialis Inggeris pula di dalam mencelakakan Ikhwanul Muslimin mempunyai peranan yang sangat besar.
Akhirnya pada pagi hari tanggal 13 Februari 1949 beliau memanggil puteranya. Kemudian beliau bercerita kepada puteranya itu bahawa semalam beliau bermimpi merasa dikunjungi Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata kepada beliau: “Wahai Hasan, kamu telah menunaikan kewajipan, semoga amalmu diterima oleh Allah.”
Kemudian pada petang harinya, beliau meninggalkan rumah bersama kawan-kawan seperjuangan pergi menunaikan tugas. Tiba-tiba beliau di tembak oleh seorang anggota Polis kakitangan Raja Farouk, dan tersungkurlah beliau di tepi jalan Kairo, dan beliau menemui syahidnya setelah sampai di hospital.
Beliau meninggal dunia kerana ditembak di pinggir jalan raya, dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Bahkan pembunuhnya mendapat hadiah dari Raja Farouk.
Jenazah beliau hanya disolatkan oleh ayah beliau sebagai Imam dan anak lelaki beliau sebagai makmum. Hanya dua orang. Kerana di sekeliling rumah beliau dijaga ketat oleh askar negara untuk melarang siapapun masuk rumahnya memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.
Hasan Al-Banna
Dipublikasi pada Selasa, 23 September 2003 oleh abufaiz97
Artikel ini telah dibaca 1596 kali.
Topik: Kisah Tokoh Islam
Kisah Tokoh Islam Syeikh Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906, yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan secara Islam itulah maka ia boleh berkata: “Hanya Islamlah ayah kandungku.”
----------
Syeikh Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906, yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan secara Islam itulah maka ia boleh berkata: “Hanya Islamlah ayah kandungku.” Hal itu kerana rasa cintanya terhadap ajaran Islam, kerana ajaran itulah yang membentuk watak dan keperibadiannya.
Ayah kandungnya sendiri adalah Syeikh Ahmad Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan as-Sa’ati, atau si tukang jam.
Hasan Al-Banna hafal 30 Juz kitab suci Al-Quran, padahal umur beliau pada saat itu baru 20 tahun. Ketika umur yang sekian itu beliau berhasil menginsafkan Syeikh Abdul Wahab Jandrawy, Pemimpin (Syeikh) Al-Azhar University yang mempunyai pengaruh besar pada segenap lapisan masyarakat dan mempunyai hubungan yang akrab dengan berbagai pihak.
Namun Syeikh yang banyak ilmunya itu tidak mempunyai roh jihad membela rakyat dan Islam dari kezaliman Raja Farouk dan penjajah Inggeris. Kecuali Syeikh Jandrawy ini adalah seorang pemimpin Sufi yang mempunyai banyak pengikut setiap malam berzikir dan berselawat dengan nyanyian-nyanyian khusus ahli Thariqat, tetapi mereka tidak mengerti sama sekali bahawa mereka itu terkurung oleh suasana yang diliputi kejahilan dan kejumudan umat. Mereka jauh dari semangat dan keagungan Islam kerana suasana kemunduran umat yang membelenggu.
Pada tahun 1927, ketika Hasan Al-Banna baru berusia 21 tahun, beliau telah lulus dari Perguruan Darul Ulum Mesir, beliau terus mengajar di Ismailiyah. Di Ismailiyah beliau semakin mengerti suasana rakyat Mesir yang telah sempurna rosaknya. Amat nyata perbezaannya antara kehidupan bangsa Mesir yang menjadi pekerja kasar dengan rumah serta perkampungan yang buruk; dengan kehidupan orang-orang kulit putih yang menempati gedung-gedung megah dengan segala keangkuhannya. Kecuali kemiskinan dan kebodohan, rakyat juga banyak yang rosak moralnya kerana pengaruh kehidupan Barat yang sengaja direka oleh kaum penjajah untuk menghancurkan rakyat Mesir dari segi yang lain.
Dalam suasana yang demikian itulah Hasan Al-Banna mendirikan suatu jemaah yang dinamakan “Al-lkhwanul Muslimin” (Persaudaraan orang-orang Muslim) pada bulan Dzul Kaedah 1347 Hijrah (Mac 1928) yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Semangat kedua beliau itulah sebagai rantai yang menyambung kepada cita yang diinginkan oleh Hasan Al-Banna beserta kawan kawannya di dalam membentuk organisasi tersebut.
Adapun khiththah gerakan lkhwanul Muslimin yang menuju cita yang diredhai Allah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW itu melalui tahapan yakni:
1. Membentuk peribadi Muslim
2. Membentuk rumahtangga dan keluarga Islam
3. Cara hidup kampung Islam
4. Menuju kepada negeri Islam
5. Menuju kepada pemerintahan Islam.
Gerak Ikhwanul Muslimin meliputi segala bidang dakwah, mulai pendidikan terhadap anak-anak, pelajaran Al-Quran bagi orang dewasa, pendidikan keluarga, bidang sosial walaupun nampaknya sederhana sekalipun, dari kampung-kampung sampai kepada Universiti di kampus-kampus, mulai artikel sampai penerbitan buku dan majalah-majalah, sampai kepada urusan politik dalam amar makruf nahi mungkar, dan sebagainya.
Sampai kepada Muktamar Ikhwanul Muslimin yang ketiga tahun 1934, tampak tokoh-tokoh intelektual dan para ulama terkenal yang menjadi anggota dan pendukung Ikhwan, seperti Syekh Thanthawi Jauhari, seorang ahli tafsir terkenal dan Guru Besar. Kemudian Sayid Quthub, Dr. Abdul Qadir Audah, seorang Hakim terkenal, dan juga Dr. Hasan Al-Hadlaiby, dan sebagainya.
Syeikh Hasan Al-Banna bersama kawan-kawannya tidak mampu berdiam diri menghadapi kekuasaan Raja Farouk yang telah tenggelam dalam kemabukan, rasuah, dan sewenang-wenang. Perbezaan pendapat, perselisihan, dan akhirnya pertentangan dengan penguasa yang aniaya dan dibantu oleh kekejaman penjajah Inggeris tidak dapat dihindarkan.
Tentu saja penyokong Kerajaan bekerja keras untuk dapat mengawasi gerak-geri para anggota Ikhwanul Muslimin. Kaum Imperialis Inggeris pula di dalam mencelakakan Ikhwanul Muslimin mempunyai peranan yang sangat besar.
Akhirnya pada pagi hari tanggal 13 Februari 1949 beliau memanggil puteranya. Kemudian beliau bercerita kepada puteranya itu bahawa semalam beliau bermimpi merasa dikunjungi Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata kepada beliau: “Wahai Hasan, kamu telah menunaikan kewajipan, semoga amalmu diterima oleh Allah.”
Kemudian pada petang harinya, beliau meninggalkan rumah bersama kawan-kawan seperjuangan pergi menunaikan tugas. Tiba-tiba beliau di tembak oleh seorang anggota Polis kakitangan Raja Farouk, dan tersungkurlah beliau di tepi jalan Kairo, dan beliau menemui syahidnya setelah sampai di hospital.
Beliau meninggal dunia kerana ditembak di pinggir jalan raya, dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Bahkan pembunuhnya mendapat hadiah dari Raja Farouk.
Jenazah beliau hanya disolatkan oleh ayah beliau sebagai Imam dan anak lelaki beliau sebagai makmum. Hanya dua orang. Kerana di sekeliling rumah beliau dijaga ketat oleh askar negara untuk melarang siapapun masuk rumahnya memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.
(Sumber : www.daarut-tauhiid.org)
mengambil ibrah dari QS Yusuf (kisahnya dgn istri al-azis)
Diposting oleh
rindu akan sebuah cinta....
on Rabu, 02 Desember 2009
"Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata,"marilah mendekat padaku." Yusuf berkata,"Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.
Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusufpun berkehendak padanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinyakeburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih"
(QS Yusuf 23-24)
nah, pelajaran bagi kita, perasaan pada lawan jenis itu normal, itulah sunatullah, tapi bukan berarti kita harus ekspresikan secara gamblang.
adalah yusuf yang telah beri contoh, berlindunglah pada Allah, atas segala yang telah tertaut di hati, agar hati kita diridhai oleh Allah, dan kita tidak menzalimi diri kita dengan melawan fitrah kita sebagai hamba Allah yang taat dan fitrah kita sebagai manusia yang bernafsu.
mudah-mudahan Allah menjaga kita dari segala kerusakan hati, dan biarlah hati ini penuh dengan cinta pada Allah, hingga apapun rasa cinta yang hadir, merupakan bentuk-bentuk pengejawantahan cinta kita pada Allah...
dan dengan itulah kita meraih ridha Allah, dan menjadi generasi Rabbaniyin (generasi yang Rabbani) yang mana radhiallah wa radhu anh (diridahi Allah dan kita ridha akan keputusan Allah)....
wallahu a'lam bishshowab...
semoga bermanfaat...
Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusufpun berkehendak padanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinyakeburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih"
(QS Yusuf 23-24)
nah, pelajaran bagi kita, perasaan pada lawan jenis itu normal, itulah sunatullah, tapi bukan berarti kita harus ekspresikan secara gamblang.
adalah yusuf yang telah beri contoh, berlindunglah pada Allah, atas segala yang telah tertaut di hati, agar hati kita diridhai oleh Allah, dan kita tidak menzalimi diri kita dengan melawan fitrah kita sebagai hamba Allah yang taat dan fitrah kita sebagai manusia yang bernafsu.
mudah-mudahan Allah menjaga kita dari segala kerusakan hati, dan biarlah hati ini penuh dengan cinta pada Allah, hingga apapun rasa cinta yang hadir, merupakan bentuk-bentuk pengejawantahan cinta kita pada Allah...
dan dengan itulah kita meraih ridha Allah, dan menjadi generasi Rabbaniyin (generasi yang Rabbani) yang mana radhiallah wa radhu anh (diridahi Allah dan kita ridha akan keputusan Allah)....
wallahu a'lam bishshowab...
semoga bermanfaat...
Memaknai Hari Raya Qurban #02
Diposting oleh
rindu akan sebuah cinta....
on Minggu, 29 November 2009
(sambungan dari Memaknai Hari Raya Qurban #01)
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
bismillahirrahmanirrahiim...
pembaca yang budiman, alhamdulillah, pagi ini penulis masih diberi kesempatan untuk saling beragi pemahaman, dan pastinya penulis sangat butuh masukan dari pembaca yang budiman...
ied mubarok...
marhaban yaa ied mubarok...
hari raya qurban (idul adha,pen), adalah hari raya akbar umat islam, banyak makna yang terkandung dari peristiwa ini, bukan hanya masalah menyembelih hewan ternak, atau mengingat peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS...
lebih dari itu, kita harus lebih bijak dalam memaknainya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd...
saudaraku pembaca yang budiman...
pada tulisan lalu sudah dua poin yang dibahas, sekarang mari kita lanjutkan.
3. Peristiwa Penyembelihan Ismail AS
lama Ibrahim diminta Allah menyebarkan agamaNya di negeri antah berantah, akhirnya ia diizinkan untuk pulang.
senangnya hati Ibrahim, ia bergegas ke tempat di mana ia meninggalkan Hajar dan Ismail.
Ismail sudah tumbuh menjadi remaja, betapa senang dan sayang Ibrahim terhadapnya.
Cukup lama Ibrahim memanjakan Ismail, namun kerinduan yang lama belumlah hilang, hingga turunlah firman Allah melalui mimpinya.
masygul, itulah keadaan hatinya, hingga ia pun bercerita pada Hajar dan Ismail, hajar diam.
Tapi respon berbeda ditunjukkan oleh Nabi Ismail AS, dia menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk memenuhi Perintah Allah, subhanallah.
meski kalau dilihat secara sudut pandang manusia biasa posisi Ismail adalah korban, namun ia begitu bersemangat untuk memenuhinya, itulah bukti CINTA yang tak terbatas pada Allah SWT.
Dan pada akhirnya mereka melaksanakan penyembelihan (panjang lagi ceritanya, tapi penulis tidak ingin berlama-lama pada cerita, mungkin bagi yang belum tahu, silahkan googling untuk mencari ceritanya).
Saudaraku pembaca yang budiman, betapa indahnya Cinta yang tulus dari orang-orang yang bertaqwa...
sekali lagi, TAK ADA SANGGAHAN SEDIKITPUN !!
mereka ikhlas melaksanakan segala perintah Allah, tak seperti Yahudi (Bani Israil) yang banyak bertanya ketika diberi perintah (karena tabi'at dan keingkaran mereka, baca: kisah nabi Musa).
Sekarang pilihlah, ingin mengikuti jejak Ibrahim dan Ismail dalam ketaatan atau malah mengikuti Yahudi la'natullah dalam pengingkaran ??
4.Memaknai Berbagi pada hari raya Qurban
BERBAGI !
itulah kata yang tepat untuk menggambarkan hari raya Qurban, miskin, kaya, tua, muda semua bisa menikmati daging (makanan yang dinilai cukup berkelas), terlepas dari halangan kesehatan untuk mengkonsumsinya dan terlepas dari aplikasi yang ada pada saat ini.
Begitulah mulianya islam, semua nilai kemaslahatan ummat ada di sini, bukan hanya bagi ummat manusia, tapi alam ini juga merasakan indahnya hidup bila islam benar-benar diterapkan.
Setahun sekali kita berbagi daging dengan semua umat islam (selayaknya tidak ada yang tidak mendapatkan), tak ada pengeculian, asalkan mereka muslim.
11, 12, 13 Dzulhijjah, umat islam dilarang berpuasa, karna hari-hari ini kita gunakan untuk silaturahim dan menikmati daging qurban.
Sekarang, dunia bagai dipecah dua faham (selain islam yang mulia), liberal dan sosialis.
setelah ditinjau dari hikmah Qurban, ternyata islam sangat komplit, dua paham tersebut bisa dikatakan "terakomodir", paham sosialis, semua sama, dapat daging qurban, jatah untuk jamaah sama, tak berbeda.
paham liberal, di mana pemilik modal dapat kelebihan, begitulah, peserta Qurban dapan kupon peserta selain kupon jamaah.
luar biasa, lalu kenapa masih ada juga yang memilih paham selain islam bila islam telah lengkap dan sempurna?? entahlah, semoga Allah memberi hidayah...
Pada akhirnya saudaraku, tiap-tiap peringatan, janganlah kita jadikan sekedar ceremonial belaka, ada hikmah dan ibrah yang harus kita ambil dan kita tanamkan pada diri kita sebagai seorang insan yang beriman...
Wallahua'lam bisshawab, Allah maha tahu atas segala hikmah dan ibrah, karna penulis hanya mencoba meraba hikmah dan ibrahnya...
Atas segala Khilaf penulis mohon maaf...tolong sampaikan kritik dan saran ke blog ini.
semua kebenaran datangnya dari Allah, Rabbi izzati...
bila ada manfaat silakan diambil dan boleh disebarluaskan...
Jazaakumullah...
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd...
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
bismillahirrahmanirrahiim...
pembaca yang budiman, alhamdulillah, pagi ini penulis masih diberi kesempatan untuk saling beragi pemahaman, dan pastinya penulis sangat butuh masukan dari pembaca yang budiman...
ied mubarok...
marhaban yaa ied mubarok...
hari raya qurban (idul adha,pen), adalah hari raya akbar umat islam, banyak makna yang terkandung dari peristiwa ini, bukan hanya masalah menyembelih hewan ternak, atau mengingat peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS...
lebih dari itu, kita harus lebih bijak dalam memaknainya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd...
saudaraku pembaca yang budiman...
pada tulisan lalu sudah dua poin yang dibahas, sekarang mari kita lanjutkan.
3. Peristiwa Penyembelihan Ismail AS
lama Ibrahim diminta Allah menyebarkan agamaNya di negeri antah berantah, akhirnya ia diizinkan untuk pulang.
senangnya hati Ibrahim, ia bergegas ke tempat di mana ia meninggalkan Hajar dan Ismail.
Ismail sudah tumbuh menjadi remaja, betapa senang dan sayang Ibrahim terhadapnya.
Cukup lama Ibrahim memanjakan Ismail, namun kerinduan yang lama belumlah hilang, hingga turunlah firman Allah melalui mimpinya.
masygul, itulah keadaan hatinya, hingga ia pun bercerita pada Hajar dan Ismail, hajar diam.
Tapi respon berbeda ditunjukkan oleh Nabi Ismail AS, dia menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk memenuhi Perintah Allah, subhanallah.
meski kalau dilihat secara sudut pandang manusia biasa posisi Ismail adalah korban, namun ia begitu bersemangat untuk memenuhinya, itulah bukti CINTA yang tak terbatas pada Allah SWT.
Dan pada akhirnya mereka melaksanakan penyembelihan (panjang lagi ceritanya, tapi penulis tidak ingin berlama-lama pada cerita, mungkin bagi yang belum tahu, silahkan googling untuk mencari ceritanya).
Saudaraku pembaca yang budiman, betapa indahnya Cinta yang tulus dari orang-orang yang bertaqwa...
sekali lagi, TAK ADA SANGGAHAN SEDIKITPUN !!
mereka ikhlas melaksanakan segala perintah Allah, tak seperti Yahudi (Bani Israil) yang banyak bertanya ketika diberi perintah (karena tabi'at dan keingkaran mereka, baca: kisah nabi Musa).
Sekarang pilihlah, ingin mengikuti jejak Ibrahim dan Ismail dalam ketaatan atau malah mengikuti Yahudi la'natullah dalam pengingkaran ??
4.Memaknai Berbagi pada hari raya Qurban
BERBAGI !
itulah kata yang tepat untuk menggambarkan hari raya Qurban, miskin, kaya, tua, muda semua bisa menikmati daging (makanan yang dinilai cukup berkelas), terlepas dari halangan kesehatan untuk mengkonsumsinya dan terlepas dari aplikasi yang ada pada saat ini.
Begitulah mulianya islam, semua nilai kemaslahatan ummat ada di sini, bukan hanya bagi ummat manusia, tapi alam ini juga merasakan indahnya hidup bila islam benar-benar diterapkan.
Setahun sekali kita berbagi daging dengan semua umat islam (selayaknya tidak ada yang tidak mendapatkan), tak ada pengeculian, asalkan mereka muslim.
11, 12, 13 Dzulhijjah, umat islam dilarang berpuasa, karna hari-hari ini kita gunakan untuk silaturahim dan menikmati daging qurban.
Sekarang, dunia bagai dipecah dua faham (selain islam yang mulia), liberal dan sosialis.
setelah ditinjau dari hikmah Qurban, ternyata islam sangat komplit, dua paham tersebut bisa dikatakan "terakomodir", paham sosialis, semua sama, dapat daging qurban, jatah untuk jamaah sama, tak berbeda.
paham liberal, di mana pemilik modal dapat kelebihan, begitulah, peserta Qurban dapan kupon peserta selain kupon jamaah.
luar biasa, lalu kenapa masih ada juga yang memilih paham selain islam bila islam telah lengkap dan sempurna?? entahlah, semoga Allah memberi hidayah...
Pada akhirnya saudaraku, tiap-tiap peringatan, janganlah kita jadikan sekedar ceremonial belaka, ada hikmah dan ibrah yang harus kita ambil dan kita tanamkan pada diri kita sebagai seorang insan yang beriman...
Wallahua'lam bisshawab, Allah maha tahu atas segala hikmah dan ibrah, karna penulis hanya mencoba meraba hikmah dan ibrahnya...
Atas segala Khilaf penulis mohon maaf...tolong sampaikan kritik dan saran ke blog ini.
semua kebenaran datangnya dari Allah, Rabbi izzati...
bila ada manfaat silakan diambil dan boleh disebarluaskan...
Jazaakumullah...
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd...
Memaknai Hari Raya Qurban #01
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
bismillahirrahmanirrahiim...
pembaca yang budiman, alhamdulillah, pagi ini penulis masih diberi kesempatan untuk saling beragi pemahaman, dan pastinya penulis sangat butuh masukan dari pembaca yang budiman...
ied mubarok...
marhaban yaa ied mubarok...
hari raya qurban (idul adha,pen), adalah hari raya akbar umat islam, banyak makna yang terkandung dari peristiwa ini, bukan hanya masalah menyembelih hewan ternak, atau mengingat peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS...
lebih dari itu, kita harus lebih bijak dalam memaknainya.
1. Memaknai peristiwa ditinggalkannya Hajar dan Ismail AS
lama Rasul nan hanif menunggu keturunannya, hingga beliau tua renta, ia pun bermunajat pada Allah, karena takut tak memiliki generasi penerus, agar bisa meneruskan Risalah tauhid...
akhirnya beliau mendapatkan seorang putra, Ismail AS...di tengah rasa cinta dan senang yang begitu besar, Sang Nabi diminta untuk meninggalkan istri dan anaknya, di sebuah padang tandus, dan karena perintah itu dari Allah SWT, maka beliau menurutinya.
apa maknanya saudaraku?
jangan pernah berfikir, di sini Allah kejam terhadap Ibrahim, pahamilah, ada atau tidak ada Ibrahim di sisi anak dan istrinya, tetap saja, yang maha menjaga dan memberi rizki itu adalah Allah SWT.
Teladan, itulah yang ditunjukkan oleh Rasul kita tersebut, tak ada keraguan padanya ketika Allah memerintahkannya, ratusan tahun ia menantikan putra, ketika dapat, ia harus meninggalkan, inilah bukti ikhlas seikhlas-ikhlasnya...
Sahabat pembaca yang budiman, sekarang tanyakan pada diri kita, sudah berapa kali kita tahu dan mendengar peristiwa ini?
sudah kah kita memaknainya? sudahkah kita berupaya untuk menajalankan hikmahnya?
penulis jadi teringat, pesan (cerita) dari seorang ustadz yang mengisahkan kejadian pada keluarga Imam Syahid Hasan Albanna, ketika anaknya sedang sakit, dan ia harus mengisi pengajian. Sang imam rahimahullah berkata pada istri dan anaknya, "ada atau tiada diriku, tidak akan mampu menyembuhkan anakku, karna Allah lah yang maha menyembuhkan...maka izinkan aku untuk tetap berdakwah" (afwan, kira2 seperti itulah yang dikatakan). dan luar biasa, karna dakwah sudah menjadi keseharian mereka, maka tidak ada pertentangan, ikhlas. Benarlah kiranya konsep itu, dengan keikhlasan itu Allah ridho terhadap beliau, hingga kesembuhan anaknya sudah menjadi jaminan dari Rabbi izzati.
saudaraku pembaca yang budiman, betapa indahnya bila kita (yang sudah tahu sebenarnya) bila masuk ke dalam islam secara kaffah, berislam berarti menyerahkan semua urusan (yang tidak ada kuasa kita) kepada Allah, dari masalah JODOH, RIZKI, dan MAUT sekalipun.
2. Memaknai peristiwa munculnya zam-zam
saudara pembaca yang budiman...
sepeninggal Ibrahim AS, kedua insan mulia tadi mengalami kehausan yang begitu dahsyat, Ismail AS merengek sejadi-jadinya minta air minum.
Hajar r.a.pun bingung, ke mana harus mencari air di tengah gurun pasir tandus itu, terlihatlah olehnya di kaki bukit ada seperti oase (kaki bukit syafa), maka ia kejar, sesampainya di sana, ternyata itu hanyalah fatamorgana, dengan kebingungan karna tangisan Ismail, ia kembali mencari, dan terlihat lagi di kaki bukit marwa ada oase, dan itu juga hanya fatamorgana, begitulah terus.
Ismail yang kehausan terus merengek, dan menghentak-hentakkan kakinya di pasir, dan luar biasa, sebuah mata air menyembur dari bekas hentakan kaki Ismail AS, Hajar pun berteriak," zami zami...!"... seraya bersyukur pada Allah, ia pun mengambil air tersebut untuk diminum oleh Ismail AS.
saudaraku pembaca yang budiman, lalu apa ibrah yang dapat kita petik dari kejadian ini?
bukannya tanpa dicari ke sana ke mari Hajar bisa saja minta langsung tanpa usaha pada Allah, karna posisinya sebagai istri seorang Rasul mulia.
Dan tidak mustahil bagi Allah untuk langsung memberikan apa yang dibutuhkan oleh mereka.
Tapi tidak, sesungguhnya Allah ingin menunjukkan, bahwa pertolongan Allah itu tidak datang serta merta, butuh kesabaran, ketawakalan, dan pengorbanan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah, siapapun kita.
Begitu juga kejadian (peristiwa) ketika Maryam (ibunda Nabi Isya AS) diusir warga, dan dalam kehausan yang teramat sangat, Allah tak langsung memberikan minuman, namun Allah memerintahkan beliau untuk menghentakkan kakinya ke sebuah pohon (kelapa), maka jatuhlah buahnya, dan kebutuhan Maryam pun terpenuhi.
Saudaraku pembaca yang budiman, lihatlah, pribadi-pribadi yang kesholehannya tak diragukan lagi saja masih saja harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu, tidak instan, pantaskah kita berharap pertolongan instan dari Allah atas masalah kita tanpa doa, usaha, dan tawakkal pada-Nya ???
pahamilah saudaraku, Allah tak akan merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak merubahnya !
Renungkan, dan mulailah untuk berusaha...
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd...
(bersambung ke Memaknai Hari Raya Qurban #02)
bismillahirrahmanirrahiim...
pembaca yang budiman, alhamdulillah, pagi ini penulis masih diberi kesempatan untuk saling beragi pemahaman, dan pastinya penulis sangat butuh masukan dari pembaca yang budiman...
ied mubarok...
marhaban yaa ied mubarok...
hari raya qurban (idul adha,pen), adalah hari raya akbar umat islam, banyak makna yang terkandung dari peristiwa ini, bukan hanya masalah menyembelih hewan ternak, atau mengingat peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS...
lebih dari itu, kita harus lebih bijak dalam memaknainya.
1. Memaknai peristiwa ditinggalkannya Hajar dan Ismail AS
lama Rasul nan hanif menunggu keturunannya, hingga beliau tua renta, ia pun bermunajat pada Allah, karena takut tak memiliki generasi penerus, agar bisa meneruskan Risalah tauhid...
akhirnya beliau mendapatkan seorang putra, Ismail AS...di tengah rasa cinta dan senang yang begitu besar, Sang Nabi diminta untuk meninggalkan istri dan anaknya, di sebuah padang tandus, dan karena perintah itu dari Allah SWT, maka beliau menurutinya.
apa maknanya saudaraku?
jangan pernah berfikir, di sini Allah kejam terhadap Ibrahim, pahamilah, ada atau tidak ada Ibrahim di sisi anak dan istrinya, tetap saja, yang maha menjaga dan memberi rizki itu adalah Allah SWT.
Teladan, itulah yang ditunjukkan oleh Rasul kita tersebut, tak ada keraguan padanya ketika Allah memerintahkannya, ratusan tahun ia menantikan putra, ketika dapat, ia harus meninggalkan, inilah bukti ikhlas seikhlas-ikhlasnya...
Sahabat pembaca yang budiman, sekarang tanyakan pada diri kita, sudah berapa kali kita tahu dan mendengar peristiwa ini?
sudah kah kita memaknainya? sudahkah kita berupaya untuk menajalankan hikmahnya?
penulis jadi teringat, pesan (cerita) dari seorang ustadz yang mengisahkan kejadian pada keluarga Imam Syahid Hasan Albanna, ketika anaknya sedang sakit, dan ia harus mengisi pengajian. Sang imam rahimahullah berkata pada istri dan anaknya, "ada atau tiada diriku, tidak akan mampu menyembuhkan anakku, karna Allah lah yang maha menyembuhkan...maka izinkan aku untuk tetap berdakwah" (afwan, kira2 seperti itulah yang dikatakan). dan luar biasa, karna dakwah sudah menjadi keseharian mereka, maka tidak ada pertentangan, ikhlas. Benarlah kiranya konsep itu, dengan keikhlasan itu Allah ridho terhadap beliau, hingga kesembuhan anaknya sudah menjadi jaminan dari Rabbi izzati.
saudaraku pembaca yang budiman, betapa indahnya bila kita (yang sudah tahu sebenarnya) bila masuk ke dalam islam secara kaffah, berislam berarti menyerahkan semua urusan (yang tidak ada kuasa kita) kepada Allah, dari masalah JODOH, RIZKI, dan MAUT sekalipun.
2. Memaknai peristiwa munculnya zam-zam
saudara pembaca yang budiman...
sepeninggal Ibrahim AS, kedua insan mulia tadi mengalami kehausan yang begitu dahsyat, Ismail AS merengek sejadi-jadinya minta air minum.
Hajar r.a.pun bingung, ke mana harus mencari air di tengah gurun pasir tandus itu, terlihatlah olehnya di kaki bukit ada seperti oase (kaki bukit syafa), maka ia kejar, sesampainya di sana, ternyata itu hanyalah fatamorgana, dengan kebingungan karna tangisan Ismail, ia kembali mencari, dan terlihat lagi di kaki bukit marwa ada oase, dan itu juga hanya fatamorgana, begitulah terus.
Ismail yang kehausan terus merengek, dan menghentak-hentakkan kakinya di pasir, dan luar biasa, sebuah mata air menyembur dari bekas hentakan kaki Ismail AS, Hajar pun berteriak," zami zami...!"... seraya bersyukur pada Allah, ia pun mengambil air tersebut untuk diminum oleh Ismail AS.
saudaraku pembaca yang budiman, lalu apa ibrah yang dapat kita petik dari kejadian ini?
bukannya tanpa dicari ke sana ke mari Hajar bisa saja minta langsung tanpa usaha pada Allah, karna posisinya sebagai istri seorang Rasul mulia.
Dan tidak mustahil bagi Allah untuk langsung memberikan apa yang dibutuhkan oleh mereka.
Tapi tidak, sesungguhnya Allah ingin menunjukkan, bahwa pertolongan Allah itu tidak datang serta merta, butuh kesabaran, ketawakalan, dan pengorbanan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah, siapapun kita.
Begitu juga kejadian (peristiwa) ketika Maryam (ibunda Nabi Isya AS) diusir warga, dan dalam kehausan yang teramat sangat, Allah tak langsung memberikan minuman, namun Allah memerintahkan beliau untuk menghentakkan kakinya ke sebuah pohon (kelapa), maka jatuhlah buahnya, dan kebutuhan Maryam pun terpenuhi.
Saudaraku pembaca yang budiman, lihatlah, pribadi-pribadi yang kesholehannya tak diragukan lagi saja masih saja harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu, tidak instan, pantaskah kita berharap pertolongan instan dari Allah atas masalah kita tanpa doa, usaha, dan tawakkal pada-Nya ???
pahamilah saudaraku, Allah tak akan merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak merubahnya !
Renungkan, dan mulailah untuk berusaha...
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd...
(bersambung ke Memaknai Hari Raya Qurban #02)
sebuah perubahan kepemimpinan....
Diposting oleh
rindu akan sebuah cinta....
on Sabtu, 28 November 2009
Saudaraku, Khalid bin Walid adalah seorang pangliam perang yang tangguh, tak ada satupun bangsa arab ketika itu yang meragukannya...
ingat, dialah yang telah menyerang balik pasukan muslim di uhd setelah kelalaian pasukan muslim.
Begitu juga ketika beliau telah masuk k dalam islam yang kaffah, beliau jadi seorang panglima perang yang besar.
Ketika nama beliau sedang di puncak kejayaan, dan banyak orang mempercayakan, Sayyidina umar malah memberhentikannya.
apa sebab?
karena sayyidina Umar tidak ingin kekaguman sebagian kaum muslimin pada Khalid menyebabkan mereka syirik.
setelah diperhatikan secara saksama, bukan hanya hal itu yang terkandung dalam pemberhentian ini.
Di sini kita mengambil hikmah, ada masalah yang urgen sebenarnya yang terajdi pada beberapa wajihah saat ini.
1. ketergantungan pada dakwah figuritas.
saudaraku, terkadang (dalam beberapa saat), dakwah figuritas sangat memegang penting, agar adanya rasa ketertarikan dari non-kader maupun kader untuk berafiliasi aktif di dalam sebuah wajihah. sebagai contoh, seorang ikhwan yang menjabat sebagai ketua di suatu wajihah akan lebihdipandang kata-katanya dan ajakannya daripada anggota wajihahnya. Pada awalnya bagus, tapi lama kelamaan, hal ini jadi ketergantungan, karena motivasi utama orang-orang yang berafiliasi tadi adalah figur yang dikagumi atau disegani. contoh kasus, beberapa orang yang berafiliasi pada dakwah kampus, menjadi lemah semangatnya, ketika sang figur tak lagi berafiliasi secara aktif di kampus.
hikmah yang di ambil dari apa yang diambil oleh Sang Khalifah bisa kita renaungkan sebagai solusi, bagaimana beliau ingin menampilkan figur-figur lain, agar figur Khalid tak begitu sentral lain.
Hal ini juga telah banyak dilakukan oleh jama'ah kita (hizb), ketika terjadi pergantian Presiden hizb, tokoh yang terpilih adalah orang yang selama ini namanya tak begitu akrab di telinga masyarakat luas ataupun kader yang di grass root, meskipun banyak komentar negatif (memilih tokoh tak populis lah, dsb), hizb tetap tak bergeming, karna pada dasarnya, tokoh tersebut juga adalah orang yang kapabel dalam hal memimpin. Hal ini menghilangkan keidentikan seorang individu dengan sebuah wajihah dakwah. Hingga mengurangi kesan dakwah figuritas tadi.
mungkin bagi wajihah yang telah terinfeksi virus ganas ini (penulis anggap ini merupakan sebuah virus), menghentikan figuritas ini berat, bisa kehilangan banyak kader maupun simpatisan, tapi ini harus dilakukan, agar tak ada lagi ketergantungan pada seorang kader. karna targetan suatu wajihah dakwah, buakn jangka pendek untuk seathun atau dua, tapi bagaimana wajihah tersebuat bisa exis hingga akhir zaman, dan menjadi salah satu pilar tegaknya bangunan islam.
2. regenerasi dakwah.
saudaraku, regenerasi adalah keniscayaan yang harus ada dalam suatu wajihah, apapun wajihah tersebut, bila ingin bertahan lama. berkaca dari sebuah pohon, daun-daun tua gugur dan digantikan daun muda, apakah setelah gugur daun tua tak berkontribusi? pastinya masih berkontribusi, ia menjadi pupuk organik yang menjadi mineral bagi tumbuh kembangnya daun-daun baru.
tentu saja, bila berbicara regenerasi, kita berbicara tentang pengkaderan (baca: kaderisasi).
perhatikan apa yang dilakukan oleh sayyidina Umar, beliau mengganti Khalid dengan seorang panglima yang baru dan lebih muda.
hal ini regenerasi bukan? karna adanya kaderaisasi kan?
pengganti beliau ( Abu Ubaidah ) pastinya sudah ikut dalam banyak perang yang dipimpin oleh khalid, meskipun minim pengalaman komando.
ingat apa yang dikatakan oleh Asy-syahid Imam Hasan Al-Banna ketika ada sahabat beliau menanyakan siapa yang akan menggantikannya ketika beliau wafat, beliau menjawab... angkatlah orang terlemah diantara mu, dan dukunglah ia hingga iya menjadi kuat.
begitulah semestinya kita berprilaku (baca: mengambil kebijakan) dalam wajihah yang masih bagian dari jamaah ini, jangan sampai kita takut-takut untuk melakukan regenerasi, karna hal ini penting.
ketakutan-ketakutan yang ada inilah yang membuat dakwah ini berlangsung stagnan atau malah menurun (mengenai pembahasan stagnansi ini akan penulis bahas pada bahasan lain /*doakan saja Allah masih akan memberikan limpahan rahmatNya hingga penulis bisa menulisnya*/ ).
berkat pertukaran tadi, strategi yang fresh dan penuh inovasi barupun terlahir, bagaimana beliau memotivasi seluruh masyarakat madinah untuk berjihad (baca kisah abu ubaidah di tulisan lain /*hasil copas*/).
kehidupan dakwah pun tetap bisa berlanjut dan berkesinambungan setelah turunnya Khalid yang akhirnya menutup usia pada usia 50 th.
apa jadinya bila tidak dilakuakn regenerasi? entahlah, bisa jadi karna ketergantungan terhadap kepemimpinan Khalid, para mujahidin akan tergoncang dengan kepergian beliau.
nah, begitulah Rasul dan para Sahabat mengajarkan kita, tinggal sekarang, bagaimana kita memaknainya...
Wallahua'lam bishshawab.
dari berbagai sumber...
NB: Kalo bermanfaat silakan disebarkan dengan mengCopy Paste, kalo mau komen dan ada banyak khilaf, silakan di sini...
ingat, dialah yang telah menyerang balik pasukan muslim di uhd setelah kelalaian pasukan muslim.
Begitu juga ketika beliau telah masuk k dalam islam yang kaffah, beliau jadi seorang panglima perang yang besar.
Ketika nama beliau sedang di puncak kejayaan, dan banyak orang mempercayakan, Sayyidina umar malah memberhentikannya.
apa sebab?
karena sayyidina Umar tidak ingin kekaguman sebagian kaum muslimin pada Khalid menyebabkan mereka syirik.
setelah diperhatikan secara saksama, bukan hanya hal itu yang terkandung dalam pemberhentian ini.
Di sini kita mengambil hikmah, ada masalah yang urgen sebenarnya yang terajdi pada beberapa wajihah saat ini.
1. ketergantungan pada dakwah figuritas.
saudaraku, terkadang (dalam beberapa saat), dakwah figuritas sangat memegang penting, agar adanya rasa ketertarikan dari non-kader maupun kader untuk berafiliasi aktif di dalam sebuah wajihah. sebagai contoh, seorang ikhwan yang menjabat sebagai ketua di suatu wajihah akan lebihdipandang kata-katanya dan ajakannya daripada anggota wajihahnya. Pada awalnya bagus, tapi lama kelamaan, hal ini jadi ketergantungan, karena motivasi utama orang-orang yang berafiliasi tadi adalah figur yang dikagumi atau disegani. contoh kasus, beberapa orang yang berafiliasi pada dakwah kampus, menjadi lemah semangatnya, ketika sang figur tak lagi berafiliasi secara aktif di kampus.
hikmah yang di ambil dari apa yang diambil oleh Sang Khalifah bisa kita renaungkan sebagai solusi, bagaimana beliau ingin menampilkan figur-figur lain, agar figur Khalid tak begitu sentral lain.
Hal ini juga telah banyak dilakukan oleh jama'ah kita (hizb), ketika terjadi pergantian Presiden hizb, tokoh yang terpilih adalah orang yang selama ini namanya tak begitu akrab di telinga masyarakat luas ataupun kader yang di grass root, meskipun banyak komentar negatif (memilih tokoh tak populis lah, dsb), hizb tetap tak bergeming, karna pada dasarnya, tokoh tersebut juga adalah orang yang kapabel dalam hal memimpin. Hal ini menghilangkan keidentikan seorang individu dengan sebuah wajihah dakwah. Hingga mengurangi kesan dakwah figuritas tadi.
mungkin bagi wajihah yang telah terinfeksi virus ganas ini (penulis anggap ini merupakan sebuah virus), menghentikan figuritas ini berat, bisa kehilangan banyak kader maupun simpatisan, tapi ini harus dilakukan, agar tak ada lagi ketergantungan pada seorang kader. karna targetan suatu wajihah dakwah, buakn jangka pendek untuk seathun atau dua, tapi bagaimana wajihah tersebuat bisa exis hingga akhir zaman, dan menjadi salah satu pilar tegaknya bangunan islam.
2. regenerasi dakwah.
saudaraku, regenerasi adalah keniscayaan yang harus ada dalam suatu wajihah, apapun wajihah tersebut, bila ingin bertahan lama. berkaca dari sebuah pohon, daun-daun tua gugur dan digantikan daun muda, apakah setelah gugur daun tua tak berkontribusi? pastinya masih berkontribusi, ia menjadi pupuk organik yang menjadi mineral bagi tumbuh kembangnya daun-daun baru.
tentu saja, bila berbicara regenerasi, kita berbicara tentang pengkaderan (baca: kaderisasi).
perhatikan apa yang dilakukan oleh sayyidina Umar, beliau mengganti Khalid dengan seorang panglima yang baru dan lebih muda.
hal ini regenerasi bukan? karna adanya kaderaisasi kan?
pengganti beliau ( Abu Ubaidah ) pastinya sudah ikut dalam banyak perang yang dipimpin oleh khalid, meskipun minim pengalaman komando.
ingat apa yang dikatakan oleh Asy-syahid Imam Hasan Al-Banna ketika ada sahabat beliau menanyakan siapa yang akan menggantikannya ketika beliau wafat, beliau menjawab... angkatlah orang terlemah diantara mu, dan dukunglah ia hingga iya menjadi kuat.
begitulah semestinya kita berprilaku (baca: mengambil kebijakan) dalam wajihah yang masih bagian dari jamaah ini, jangan sampai kita takut-takut untuk melakukan regenerasi, karna hal ini penting.
ketakutan-ketakutan yang ada inilah yang membuat dakwah ini berlangsung stagnan atau malah menurun (mengenai pembahasan stagnansi ini akan penulis bahas pada bahasan lain /*doakan saja Allah masih akan memberikan limpahan rahmatNya hingga penulis bisa menulisnya*/ ).
berkat pertukaran tadi, strategi yang fresh dan penuh inovasi barupun terlahir, bagaimana beliau memotivasi seluruh masyarakat madinah untuk berjihad (baca kisah abu ubaidah di tulisan lain /*hasil copas*/).
kehidupan dakwah pun tetap bisa berlanjut dan berkesinambungan setelah turunnya Khalid yang akhirnya menutup usia pada usia 50 th.
apa jadinya bila tidak dilakuakn regenerasi? entahlah, bisa jadi karna ketergantungan terhadap kepemimpinan Khalid, para mujahidin akan tergoncang dengan kepergian beliau.
nah, begitulah Rasul dan para Sahabat mengajarkan kita, tinggal sekarang, bagaimana kita memaknainya...
Wallahua'lam bishshawab.
dari berbagai sumber...
NB: Kalo bermanfaat silakan disebarkan dengan mengCopy Paste, kalo mau komen dan ada banyak khilaf, silakan di sini...
Abu Ubaidah bin Jarrah Gubernur Syam Zuhud
Ditulis oleh Ruswandi di/pada September 26, 2008
Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang terpercaya dan dicintai Rasulullah saw. Dia ikut banyak peperangan membela panji-panji Islam. Bahkan, menjadi panglima perang yang sangat memperhatikan keselamatan tentaranya.
Bahkan Abdullah bin Mas’ud bangga dengannya. “Paman-pamanku yang paling setia sebagai sahabat Rasulullah saw. Cuma tiga orang. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah,” begitu ujarnya.
Rasulullah saw. sendiri mengakui kualitas Abu Ubaidah. “Bagi suatu kaum adalah seseorang yang paling mereka percayai dan bagi kaum ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah,” begitu sabda Rasulullah saw.
Di masa pemerintahan Abu Bakar sebagi Khalifah, Abu Ubaidah dipercaya sebagai Ketua Pengawas Perbendaharaan Negara. Abu Bakar kemudian mengangkatnya menjadi Gubernur Syam. Jabatan ini diemban Abu Ubaidah hingga di masa pemerintahan Umar bin Khattab.
Tak lama kemudian Umar mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Perang menggantikan Khalid bin Walid.
Suatu ketika, ketika di masa pemerintahan Abu Ubaidah, Syam dikepung musuh. Umar berkirim surat kepada Abu Ubaidah. Isinya, “Sesunggunya tidak akan pernah ada seorang mukmin yang dibiarkan Allah dalam suatu penderitaan melainkan Dia akan melapangkan jalannya, hingga kesulitan akan dibalas-Nya dengan kemudahan.”
Surat itu dibalas oleh Abu Ubadah dengan kalimat, “Sesungguhnya Allah swt. telah berfirman: Ketahuilah bahwasanya kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau, bermewah-mewah, dan saling membanggakan kekayaan dan anak pinak di antaramu, ibarat hujan (menyirami bumi), tumbuh-tumbuhan (menjadi subur menghijau), mengagumkan para petani. Lalu tanaman itu mengering, tampak menguning, kemudian menjadi rapuh dan hancur. Sedang di akhirat kelak, ada azab yang berat (bagi mereka yang menyenangi kemewahan dunia) namun ada pula ampunan dan keridhaan Allah (bagi yang mau bertobat). Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu belaka.” (Al-Haddid: 20)
Surat balasan Abu Ubaidah ini oleh Umar dibacakan di depan kaum muslimin seusai melaksanakan shalat berjamah. “Wahai penduduk Madinah, sesungguhnya Abu Ubaidah mengharapkan aku dan kalian semua suka berjihad,” kata Umar.
Memang Abu Ubaidah dikenal orang di zamannya sebagai orang yang zuhud. Umar pernah berkunjung ke Syam ketika Abu Ubaidah menjabat sebagai gubernur. “Abu Ubaidah, untuk apakah aku datang ke rumahmu?” tanya Umar. Jawab Abu Ubaidah, “Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.”
Namun Umar memaksa. Akhirnya Abu Ubaidah mengizinkan Umar berkunjung ke rumahnya. Sungguh Umar terkejut. Ia mendapati rumah Sang Gubernur Syam kosong melompong. Tidak ada perabotan sama sekali.
Umar bertanya, “Hai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tidak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan sebuah piring besar itu, padahal kau seorang gubernur?”
“Adakah kau memiliki makanan?” tanya Umar lagi. Abu Ubaidah kemudian berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang dan memungut arang yang didalamnya.
Umar pun meneteskan air mata melihat kondisi gubernurnya seperti itu. Abu Ubaidah pun berujar, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kau ke sini hanya untuk menangis.” Umar berkata, “Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan dunia.”
Suatu ketika Umar mengirimi uang kepada Abu Ubaidah sejumlah empat ribu dinar. Orang yang diutus Umar melaporkan kepada Umar, “Abu Ubaidah membagi-bagi kirimanmu.” Umar berujar, “Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang dalam Islam yang memiliki sifat seperti dia.”
Begitulah Abu Ubaidah. Hidup baginya adalah pilihan. Ia memilih zuhud dengan kekuasaan dan harta yang ada di dalam genggamannya. Baginya jabatan bukan aji mumpung buat memperkaya diri. Tapi, kesempatan untuk beramal lebih intensif guna meraih surga.
http://www.dakwatuna.com/2008/abu-ubaidah-bin-jarrah-gubernur-syam-zuhud/
Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang terpercaya dan dicintai Rasulullah saw. Dia ikut banyak peperangan membela panji-panji Islam. Bahkan, menjadi panglima perang yang sangat memperhatikan keselamatan tentaranya.
Bahkan Abdullah bin Mas’ud bangga dengannya. “Paman-pamanku yang paling setia sebagai sahabat Rasulullah saw. Cuma tiga orang. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah,” begitu ujarnya.
Rasulullah saw. sendiri mengakui kualitas Abu Ubaidah. “Bagi suatu kaum adalah seseorang yang paling mereka percayai dan bagi kaum ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah,” begitu sabda Rasulullah saw.
Di masa pemerintahan Abu Bakar sebagi Khalifah, Abu Ubaidah dipercaya sebagai Ketua Pengawas Perbendaharaan Negara. Abu Bakar kemudian mengangkatnya menjadi Gubernur Syam. Jabatan ini diemban Abu Ubaidah hingga di masa pemerintahan Umar bin Khattab.
Tak lama kemudian Umar mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Perang menggantikan Khalid bin Walid.
Suatu ketika, ketika di masa pemerintahan Abu Ubaidah, Syam dikepung musuh. Umar berkirim surat kepada Abu Ubaidah. Isinya, “Sesunggunya tidak akan pernah ada seorang mukmin yang dibiarkan Allah dalam suatu penderitaan melainkan Dia akan melapangkan jalannya, hingga kesulitan akan dibalas-Nya dengan kemudahan.”
Surat itu dibalas oleh Abu Ubadah dengan kalimat, “Sesungguhnya Allah swt. telah berfirman: Ketahuilah bahwasanya kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau, bermewah-mewah, dan saling membanggakan kekayaan dan anak pinak di antaramu, ibarat hujan (menyirami bumi), tumbuh-tumbuhan (menjadi subur menghijau), mengagumkan para petani. Lalu tanaman itu mengering, tampak menguning, kemudian menjadi rapuh dan hancur. Sedang di akhirat kelak, ada azab yang berat (bagi mereka yang menyenangi kemewahan dunia) namun ada pula ampunan dan keridhaan Allah (bagi yang mau bertobat). Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu belaka.” (Al-Haddid: 20)
Surat balasan Abu Ubaidah ini oleh Umar dibacakan di depan kaum muslimin seusai melaksanakan shalat berjamah. “Wahai penduduk Madinah, sesungguhnya Abu Ubaidah mengharapkan aku dan kalian semua suka berjihad,” kata Umar.
Memang Abu Ubaidah dikenal orang di zamannya sebagai orang yang zuhud. Umar pernah berkunjung ke Syam ketika Abu Ubaidah menjabat sebagai gubernur. “Abu Ubaidah, untuk apakah aku datang ke rumahmu?” tanya Umar. Jawab Abu Ubaidah, “Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.”
Namun Umar memaksa. Akhirnya Abu Ubaidah mengizinkan Umar berkunjung ke rumahnya. Sungguh Umar terkejut. Ia mendapati rumah Sang Gubernur Syam kosong melompong. Tidak ada perabotan sama sekali.
Umar bertanya, “Hai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tidak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan sebuah piring besar itu, padahal kau seorang gubernur?”
“Adakah kau memiliki makanan?” tanya Umar lagi. Abu Ubaidah kemudian berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang dan memungut arang yang didalamnya.
Umar pun meneteskan air mata melihat kondisi gubernurnya seperti itu. Abu Ubaidah pun berujar, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kau ke sini hanya untuk menangis.” Umar berkata, “Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan dunia.”
Suatu ketika Umar mengirimi uang kepada Abu Ubaidah sejumlah empat ribu dinar. Orang yang diutus Umar melaporkan kepada Umar, “Abu Ubaidah membagi-bagi kirimanmu.” Umar berujar, “Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang dalam Islam yang memiliki sifat seperti dia.”
Begitulah Abu Ubaidah. Hidup baginya adalah pilihan. Ia memilih zuhud dengan kekuasaan dan harta yang ada di dalam genggamannya. Baginya jabatan bukan aji mumpung buat memperkaya diri. Tapi, kesempatan untuk beramal lebih intensif guna meraih surga.
http://www.dakwatuna.com/2008/abu-ubaidah-bin-jarrah-gubernur-syam-zuhud/
Sudikah kita menurunkan 20 atau 30 poin? (copas dari pesan masyarakat tarbiyah)
Kendatipun Rasulullah s.a.w. menganjurkan Jabir menikahi gadis, ternyata kita tahu hampir seluruh istri Rasulullah s.a.w. adalah janda.
Kendati Rasulullah menyarankan Jabir agar beristri gadis, pada kenyataannya Jabir telah menikahi janda.
Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap lelaki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Asalkan Abu Thalhah masuk Islam dan beriman, hal itu cukup sebagai mahar. Ummu Sulaim tidak berpikir yang lain. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa mashlahat bagi dakwah.
Lain lagi pikiran “aneh” seorang mukmin dari kaum anshor, Sa’ad bin Rabi’ Al Anshory. Dia tawarkan kepada saudaranya dari muhajirin, Abdurrahman bin ‘Auf, katanya, “Saya memiliki dua istri sedang engkau tidak memiliki istri. Pilihalah seorang di antara mereka yang engkau suka, sebutkan nama yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nikahi. Kalau iddahnya sudah selesai, maka nikahilah dia” (HR Bukhari).
Sa’ad tidak memiliki maksud apa-apa selain memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum memiliki istri. Keinginan berbuat baiknya itulah yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Sebagaimana kita pahami, Abdurrahman dan kaum muhajirin secara umum, mereka hijrah meninggalkan kampung halaman (Mekah), serta seluruh keluarga mereka yang masih kafir dan juga seluruh harta benda. Mereka datang di Madinah hanya dengan baju yang melekat di badan. Tidak ada sanak famili, tidak ada rumah dan harta. (Dengan perbandingan yang sedikit berbeda, bayangkan diri kita kehilangan seluruh anggota keluarga dan seluruh harta benda kemudian mengungsi di daerah yang jauh dan asing yang belum pernah kita datangi dan tidak ada sanak familipun).
Ini hanya beberapa contoh, bahwa dalam konteks pernikahan, alangkah baiknya jika dikaitkan dengan kehidupan berjamaah dan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis yang diharapkan bernilai 100 poin, tak bersediakah seseorang muslim menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? Ketika pilihan itu membawa mashlahat bagi diri, keluarga dan dakwah?
Jika gadis yang diharapkan berusia 20 tahun, tidakkah bisa sedikit toleransi dengan melihat kepada para muslimah yang lebih mendesak untuk segera menikah dikarenakan desakan usia?
Jika kita seorang wanita muda usia, dan ditanya – dalam konteks pernikahan – oleh seorang laki-laki yang sesuai kriteria harapan kita, mampukah kita mengatakan kepada pria tersebut (dengan logika dakwah), “Saya memang telah siap menikah, akan tetapi mbak ini, ukhti ini, sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.
Atau kita telah bersepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena bukan tanggung jawab kita? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan ketidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita. Masya Allah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk membenarkan pikiran individualistik kita, akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh, hingga tidak bisa tidur dan panas” (HR Bukhari – Muslim)
[Maraji’: Cahyadi Takariawan, Di Jalan Dakwah Aku Menikah]
Kendati Rasulullah menyarankan Jabir agar beristri gadis, pada kenyataannya Jabir telah menikahi janda.
Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap lelaki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Asalkan Abu Thalhah masuk Islam dan beriman, hal itu cukup sebagai mahar. Ummu Sulaim tidak berpikir yang lain. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa mashlahat bagi dakwah.
Lain lagi pikiran “aneh” seorang mukmin dari kaum anshor, Sa’ad bin Rabi’ Al Anshory. Dia tawarkan kepada saudaranya dari muhajirin, Abdurrahman bin ‘Auf, katanya, “Saya memiliki dua istri sedang engkau tidak memiliki istri. Pilihalah seorang di antara mereka yang engkau suka, sebutkan nama yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nikahi. Kalau iddahnya sudah selesai, maka nikahilah dia” (HR Bukhari).
Sa’ad tidak memiliki maksud apa-apa selain memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum memiliki istri. Keinginan berbuat baiknya itulah yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Sebagaimana kita pahami, Abdurrahman dan kaum muhajirin secara umum, mereka hijrah meninggalkan kampung halaman (Mekah), serta seluruh keluarga mereka yang masih kafir dan juga seluruh harta benda. Mereka datang di Madinah hanya dengan baju yang melekat di badan. Tidak ada sanak famili, tidak ada rumah dan harta. (Dengan perbandingan yang sedikit berbeda, bayangkan diri kita kehilangan seluruh anggota keluarga dan seluruh harta benda kemudian mengungsi di daerah yang jauh dan asing yang belum pernah kita datangi dan tidak ada sanak familipun).
Ini hanya beberapa contoh, bahwa dalam konteks pernikahan, alangkah baiknya jika dikaitkan dengan kehidupan berjamaah dan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis yang diharapkan bernilai 100 poin, tak bersediakah seseorang muslim menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? Ketika pilihan itu membawa mashlahat bagi diri, keluarga dan dakwah?
Jika gadis yang diharapkan berusia 20 tahun, tidakkah bisa sedikit toleransi dengan melihat kepada para muslimah yang lebih mendesak untuk segera menikah dikarenakan desakan usia?
Jika kita seorang wanita muda usia, dan ditanya – dalam konteks pernikahan – oleh seorang laki-laki yang sesuai kriteria harapan kita, mampukah kita mengatakan kepada pria tersebut (dengan logika dakwah), “Saya memang telah siap menikah, akan tetapi mbak ini, ukhti ini, sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.
Atau kita telah bersepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena bukan tanggung jawab kita? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan ketidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita. Masya Allah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk membenarkan pikiran individualistik kita, akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh, hingga tidak bisa tidur dan panas” (HR Bukhari – Muslim)
[Maraji’: Cahyadi Takariawan, Di Jalan Dakwah Aku Menikah]
Salman al-Farisy memaknai cintanya pada insan..
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci. Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah keinginan hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
“Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
“Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda´ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
“Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, “Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
“Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. “Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
“Allahu Akbar!”, seru Salman, “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda´, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar -untuk tidak mengatakan ‘merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan...
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, “Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..
Source: buku baru Salim A. Fillah: Jalan Cinta Para Pejuang/Gairah/Sergapan Rasa Memiliki, by Pro-U Media 2008
“Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
“Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda´ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
“Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, “Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
“Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. “Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
“Allahu Akbar!”, seru Salman, “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda´, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar -untuk tidak mengatakan ‘merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan...
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, “Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..
Source: buku baru Salim A. Fillah: Jalan Cinta Para Pejuang/Gairah/Sergapan Rasa Memiliki, by Pro-U Media 2008
