Tampilkan postingan dengan label oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oase. Tampilkan semua postingan

Rasa Takut Dua Umar

Source: Eramuslim.com

oleh Abdul Mutaqin

Rasa takut (khauf) dianggap manusiawi. Berarti, manusia dianggap wajar memiliki rasa takut. Apabila rasa takut hilang sama sekali, hilang pula naluri kewaspadaan. Jika kewaspadaan hilang, manusia menjadi amat ”gesit” sehingga ia tidak menyadari bahwa ia tengah bermain-main dalam area berbahaya. Ini bisa membuat nyawa melayang. Ngeri.

Sebaliknya, rasa takut yang amat dominan adalah virus ruhani yang melumpuhkan. Kesalehan apa yang dapat diproduksi jika manusia selalu tegang, curiga, gemetar dan selalu menutup wajah dengan kedua belah telapak tangan di pojok khayal rasa takut? Akhirnya malah stres atau hilang ingatan. Sama saja jiwa telah ”mati dalam hidup”. Tak kalah ngeri.

Ada waktu di mana manusia harus menyertakan rasa takut seperti ketika ia berdo’a meminta kepada Tuhannya (QS. Al-A’raaf [7] 55 dan 56). Ada rasa takut yang yang harus dihadapi dan diusir dengan meminta pertolongan Tuhan. Bahkan seorang Nabi Ibrahim as. pernah merasa takut ketika datang ”tamu” kepadanya (QS. Huud [11] : 47, QS. Al-Hijr [15]: 52, ). Atau Nabi Musa as. juga memiliki rasa takut atas perlakuan penduduk kota terhadapnya (QS. AL-Qasas [28] 18, 21). Atau Nabi Daud as. menyimpan rasa takut tatkala orang yang berperkara datang kepadanya (QS. Shaad [38] : 22). Begitu pula saat Rasul dan pengikutnya ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?"(QS.Al-Baqarah [2] : 214).

Sesuatu yang ditakar wajar dan pas akan membawa manfaat. Begitu pula rasa takut. Biarkan rasa takut ada sebagai respon wajar atas sunnatullah fil kaun seperti takut gagal yang memacu ketekunan dan kegigihan. Takut jatuh sakit yang membentuk disiplin berolah raga dan menjaga kesehatan. Takut ditinggal pasangan hidup yang meningkatkan frekuensi kemesraan dan pelayanan terbaik. Atau takut pada kematian yang menggenjot amal soleh dan frekuensi ibadah. Begitu seterusnya. Dalam konteks ini, rasa takut disebut sebagai cobaan yang harus disikapi dengan kesabaran sebagaimana disinggung QS. Al-Baqarah 155.

Jangan pernah bermain dengan rasa takut yang bersipat khayali dan dilebih-lebihkan. Apalagi ketakutan yang dibangun karena sebab ketidakpuasan atas sunnatullah fil kaun. Takut keriput dan tak menawan lagi lalu mengubah ciptaan dengan mendesain ulang payu dara, bokong, bibir, hidung atau dagu palsu hasil operasi. Takut kalah bersaing dalam bisnis atau dalam pangkat dan jabatan lalu mencari ”penglaris” dan teken kontrak dengan dukun. Takut hidup sengsara karena suami telah bangkrut lalu minggat dengan lelaki lain tanpa menimbang rasa dan perasan dosa. Begitu seterusnya hingga rasa takut semakin menyiksa batin dan bikin cape sendiri.

Apa yang seharusnya dilakukan ketika rasa takut datang menghampiri? Maka lihatlah rasa takutnya, apakah rasa takut yang wajar, rasa takut yang tidak beralasan atau rasa takut yang justeru merusak. Maka kembali pada dasar keyakinan iman, sabar dan tawakkal adalah cara yang paling ampuh untuk mengatasinya. Bahkan teramat penting mampu mendesain rasa takut sebagai daya dorong ke arah yang positif. Para nabi dan orang-orang besar panutan kita juga memiliki rasa takut juga. Patutlah kita belajar dari mereka.

Siapa di antara kita tak kenal Umar bin Khattab yang sangat pemberani? Sebelum Islam, orang Arab menyebutnya "Si kidal yang pemberani". Petarung pasar Ukasy yang selalu menang menaklukkan ”preman” Arab kala itu. Namun setelah Islam dan menjadi Khalifah dia termasuk orang yang sangat penakut. Takut terhadap pertanggung jawaban kepemimpinannya di hari perhitungan kelak.

Karena takutnya, hampir setiap malam dia ngeluyur ke tengah-tengah kampung keluar masuk lorong untuk mengetahui langsung apa yang terjadi pada rakyatnya. Takut kalau-kalau ada rakyatnya yang kelaparan, sakit atau sedang ditimpa ”kesialan” hidup. Dalam satu ronda malamnya itu, sampailah Ia di rumah kecil milik seorang janda miskin dan menangkap dialog si pemilik rumah. Dialog seorang ibu dan anak gadisnya soal kejujuran dalam kemiskinan yang menggetarkan hatinya.

”Nak, sebaiknya kita mencampur susu yang akan dijual besok dengan air karena sedikit sekali hasil perahan yang diperoleh tadi siang. Kalau tidak kita campur, bakal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan untuk hari ini”.

Anak gadis janda itu tidak setuju dengan pendapat orang tuanya dengan alasan khalifah melarang keras perbuatan curang.

”Tidak apalah sekali ini, anakku. Toh khalifah tidak juga mengetahui pebuatan kita ini".

"Bunda, khalifah Umar dapat saja tidak mengetahui. Tapi, Tuhannya Umar pasti mengetahuinya. Pikirkanlah, jangan sampai ibu berbuat demikian. Takutlah kita kepada murka Allah".

Peristiwa yang terjadi menjelang subuh itu melelehkan air mata Umar. Ia menangis haru.

Ada satu lagi Umar yang juga memelihara rasa takut. Adalah Umar bin Abdul Aziz, khalifah ke delapan Daulah Bani Umayyah ini mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilihi rooji’uun sesaat setelah dibai’at sebagai khalifah. Beliau amat takut dengan tanggung jawab atas jabatan yang dibebankan kepadanya. Takut murka Allah apabila ia tidak amanah sebagai kepala pemerintahan. Dalam pidatonya beliau menyatakan :

”Wahai hadirin sekalian, aku telah dibebani tugas dan tanggung jawab yang sangat berat, padahal tanpa terlebih dahulu meminta pendapatku. Jabatan ini juga bukan atas permintaanku. Aku membebaskan kalian dari membai’atku. Silahkan kalian memilih orang yang kalian sukai untuk menjadi khalifah”.

’Ajiib. Rakyat justeru semakin tertarik dan berbondong-bondong membai’atnya. Hingga Umar pulang dan menumpahkan tangisnya. Isterinya; Fatimah, keheranan dan bertanya apa sebab tangisnya membuncah. Umar menjawab:

”Aku telah dipilih menjadi khalifah. Aku melihat di pelupuk mata beban berat di pundakku atas penderitaan orang-orang miskin dan lemah”.

Sejarah mencatat Umar bin Abdul Aziz dengan tinta emas. Kewibawaan, kejujuran dan keadilannya dalam menjalankan roda pemerintahan menempatkannya sebagai khalifah yang disegani dan dicintai segenap rakyat. Kepalanya adalah akal bijak, dadanya adalah keberanian seorang pahlawan, kecerdasannya adalah ke’aliman dan kefaqihan dan mulutnya bak lidah sastrawan. Pada masa pemerintahannya yang tidak lebih dari tiga tahun, beliau sukses melebarkan sayap dakwah dan Daulah Islamiyah hingga Maroko, Aljazair, Tunisia, Tripoli, Mesir, Hijaz, Najed, Yaman, Suriah, Palestina, Yordania, Libanon, Iraq, Armenia, Afghanistan, Bukhara sampai Samarkand.

Namun dalam capaian keberhasilannya, Umar lebih memilih kesederhanaan. Umar tinggal di sebuah rumah kecil yang tidak lebih bagus dari rumah penduduk pada umumnya. Tidak heran, setiap utusan negara lain ingin menemuinya merasa heran seolah tidak percaya bahwa Umar seorang kepala negara tetapi memilih tinggal di rumah yang kecil dan jelek.

Beliau amat takutnya dengan sesuatu yang menyangkut kepentingan publik dalam jabatannya. Bahkan beliau begitu berhati-hati soal fasilitas negara meskipun itu hanyalah sebatang lilin. Pernah seorang gubernur menghadap untuk menyampaikan berbagai hal tentang jalannya roda pemerintahan dan keadaan rakyatnya. Semuanya dilaporkan dalam keadaan baik. Maka sang gubernur balik bertanya hal ihwal khalifah. Bagaimana keadaannya, kesehatannya dan bagaimana pula kesejahteraan keluarganya. Serta merta Umar mematikan lilin dan meminta pelayan menyalakan lampu dari rumahnya. Tentu saja hal tersebut membuat gubernur heran seraya bertanya mengapa khalifah melakukan hal tersebut. Dengan santainya Umar menjawab:

”Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu membelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin."

Subhanallah, ’ajiib.

Ini adalah akumulasi buah dari rasa takut yang dimiliki oleh gadis miskin di sudut kota yang menarik hati Khalifah Umar Ibnu Khattab ketika beliau ronda malam. Umar bin Khattab lalu menikahkan putranya Ashim dengan gadis itu. Dari pernikahan itu lahirlah seorang Laila yang tumbuh dalam iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’aala. Gadis suci dan cantik itu kemudian dipersunting oleh seorang yang tepandang di Madinah karena iman dan taqwanya pula, Abdul Aziz bin Marwan. Dari rahim Laila dan wibawa Abdul Aziz bin Marwan, lahir seorang pemimpin Arab. Dialah Umar bin Abdul Aziz yang kemudian menjadi khalifah mewarisi kepemimpinan kakeknya; Umar Ibnu Khattab. Benarlah ungkapan ”like son like father”.

***

Khauf (rasa takut) memiliki kedudukan istimewa dan bermanfaat bagi hati. Tentulah takut yang dimaksud adalah rasa takut kepada Allahu Rabbul Jalaal wal Ikraam. Bahkan, perasaan takut dalam konteks ini merupakan suatu hal yang wajib ada pada diri setiap orang. “… karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (terjemah QS. Ali Imran; 175). “Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (terjemah QS. Al-Baqarah [2]: 40). Dalam ayat lain Allah memerintahkan kita agar jangan takut kepada manusia, “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.” (terjemah QS. Al-Maidah [5]: 44).

Jika rasa takut kepada Allah tertanam kuat di dalam hati seseorang, maka ia akan menjadi benteng yang dapat menghalangi seseorang dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah. Bentuknya dapat saja jelmaan dari sifat wara’ atau disiplin memelihara diri dari kemungkinan melakukan hal yang diduga kuat dapat menyeret kepada perbuatan haram.



Berbahagialah orang yang masih menyisakan rasa takut kepada Rabb-nya seperti rasa takutnya dua Umar. Refleksi atas pemaknaan 1 Muharram 1431 H.



Allahu a’lam.

Depok, Desember 2009

abdul_mutaqin@yahoo.com

Ketika Cinta Tidak Perlu Diberi Nama

Udara yang cukup panas siang itu cukup membuat pori – pori kulit saya banyak mengelurkan keringat. Tetapi, saya cukup beruntung karena angkot yang tumpangi hanya berisi beberapa penumpang, hingga saya bisa lebih leluasa duduk tanpa harus berhimpit – himpitan dengan penumpang yang lain.

Tidak beberapa lama kemudian, angkot yang saya tumpangi kemudian sedikit merapat untuk kemudian naiklah dua orang penumpang. Seorang wanita yang mungkin umurnya saya perkirakan masih 20-an dengan dua orang anaknya. Secara jujur saya ingin mengatakan penampilan wanita muda itu dengan kedua orang anaknya itu jauh dari kesan menyejukkan mata. Rambut kusam dengan pakainnya yang bila boleh dikatakan tidak layak lagi.

Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah dua orang bocah yang duduk bersama perempuan itu. Dua orang bocah yang penampilan setali tiga uang dengan wanita muda itu. Bocah perempuan yang kira-kita umurnya delapan tahun duduk didekat saya, beberapa benjolan yang berisi nanah mengihiasi kepala dan bagian kaki serta lenganya. Dan sedikit menimbulakan bau yang kurang sedap. Begitu juga dengan bocah satu tahun yang berada dalam gendongan perempuan itu.

Beberapa penumpang yang ada didalam angkot itu, sedikit menutup hidungnya, mungkin karena bau yang ditimbulakan oleh koreng – koreng penumpang kecil itu. Saya yang kebetulan duduk di dekat dua bocah itu, rasaya pun ingin muntah, Karena bau anyir itu.

Merasa tidak diharapkan kehadirannya, wanita itu kemudian merapatkan bocah tertuanya untuk lebih dekat kepada tubuhnya, memeluk tubuh mungil itu dengan sebelah tangannya, sedang tangan yang satu ia pergunakan untuk menggendong bocah yan paling kecil. Tangannya kemudian membelai kepala anaknya yang tertua dan menciumnya penuh sayang.

Melihat apa yang dilakukan wanita muda itu, membuat hati saya jadi terenyuh. Saya yakin wanita itu pasti merasa bahwa orang – orang yang berada di angkot itu merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Namun, perbuatannya tadi itu saya tafsirkan sebagai bentuk pembelaan kepada kedua anaknya. Sebagai bentuk wujud cinta seorang ibu keapada sang anak. Apapun keadaan anaknya.

Ah, saya jadi teringat dengan wanita mulia yang ada di ujung Sumatera. Ibu saya, yang selalu setia menyambut kedatangan saya dari luar kota tempat saya kuliah dengan senyumnya yang menawan. Tak Pernah saya berpikir betapa besar cinta wanita separuh paya itu kepada saya. Sebuah cinta yang murni bagaikan tetesan embun di pagi hari yang menyegarkan suasana pagi hari yang sejuk.
Source : Eramuslim.com

oleh Dian Sianturi

Perasaan cinta. Yang tidak hanya dilatar belakangi oleh nafsu untuk memiliki sepenuhnya yang dicintai. Sebuah perasaan yang tulus untuk kebahagiaan sang buah hati. Sebuah ungkapan kasih sayang untuk sebuah daging yang telah lama bersemayam dalam tubuhnya. Karena sesungguhnya cinta adalah perasaan di mana setiap orang yang memiliki perasaan itu akan sepenuhnya menyerahkan jiwa dan raganya untuk yang di cintai.

Rumit memang, untuk mendefinisikan rasa cinta yang tak akan pernah habis untuk di bahas keberadaannya. Namun, toh tak ada salahnya bila kemudian saya merasakan rasa cinta begitu besar kepada semua yang layak untuk saya cintai apapun itu bentuknya. Tanpa aturan – aturan yang mengharuskan cinta itu untuk di definisikan artinya secara kaku.

Seperti juga perasaan wanita muda yang saya jumpai terhadap dua orang anaknya yang berada di angkot, kepada dua bocah yang mungkin sebagian orang mengganggapnya sebagai makhluk yang jijik. Tapi itulah sebenarnya rasa cinta yang kadang membuat kita memiliki energi lebih untuk melindungi orang yang kita cintai. Toh sebenarnya wanita itu juga mungkin seperti saya, tak mengerti apa itu sebenarnya definisi dari cinta yang abstrak. Wallahu.alam.

Al-Quran Mengajarkan Perubahan

Oleh: DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris*

AL-QUR’AN MENGAJARKAN PERUBAHAN

Allah ‘Azza wa Jalla berbicara kepada kita tentang perubahan dalam dua surat, yaitu surat Al-Anfal dan Ar-Ra’d. Di dalam surat Al-Anfal Allah berfirman:

“Demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Anfal [8]: 53)

Dan di dalam surat Ar-Ra’d Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d [13]: 11)

Kaidah-Kaidah Perubahan:

Kedua ayat mulia tersebut mengandung beberapa kaidah penting dalam mengadakan perubahan, yaitu:

Kaidah pertama:

Perubahan merupakan hukum general yang meliputi semua jenis dan ras manusia, baik mukmin atau kafir. Hal itu ditunjukkan dengan kata قَوْمٌ yang berbentuk nakirah (indefinitif). Kata ini termasuk kata mutlak dan ia tetap bermakna mutlak selama Syari’ tidak membatasinya dengan suatu sifat seperti iman dan selainnya.

Karena itu, maknanya tetap mencakup setiap kelompok, organisasi, masyarakat, atau negara, tanpa memandang agamanya. Ia juga mencakup setiap ruang danw aktu. Hal itu karena lafazh tersebut mencakup setiap masyarakat di masa lalu, masa kini dan masa depan, sebagaimana ia mencakup setiap negara di dunia.

Jadi, Allah telah menetapkan berbagai sunnah dalam kehidupan dan meletakkan faktor penyebab dan undang-undang di alam semesta dan kehidupan insani. Sunnah, faktor penyebab dan undang-undang ini menimbulkan akibat-akibatnya dan mendatangkan buahnya berdasarkan pengaruh dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Allah telah menganjurkan umat manusia ini untuk mencari faktor penyebab, undang-undang dan hukum, supaya mereka dapat mengikuti petunjuknya dan berbuat menurutnya, agar mereka memperoleh buahnya. Allah menundukkan faktor penyebab, undang-undang dan hukum itu untuk kebahagiaan manusia dan untuk melayaninya di dunia.

Bekerja adalah sarana untuk mencari rezki. Tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain serius dan bersungguh-sungguh dalam mencari rezkinya dengan mengerahkan seluruh tenaga dan potensinya. Baik rezki itu bersifat materi atau immateri, atau kedua-duanya.

Petani membajak tanah dan menabur benih, kemudian ia menunggu rezki dari Rabb. Seandainya ada seseorang berdiam diri di rumahnya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun untuk bercocok tanam, lalu ia mengira bahwa rezkinya akan datang dari pertanian, padahal ia tidak membajak, tidak menabur benih dan tidak memupuk tanah, maak dia akan kecewa dan tertinggal dari bahtera kehidupan insani. Bahkan ia dianggap berdosa karena menolak melakukan sebab, sunnah dan undang-undang.

Demikian pula para da‘i yang mencita-citakan perubahan itu harus mengerahkan segenap tenaga dan mencurahkan segenap potensi, ide, harta benda, jiwa dan hal-hal yang berharga untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka canangkan.

Kaidah kedua:

Perubahan yang berdampak dan dituntut dalam konsep Islam adalah perubahan kolektif yang mencakup mayoritas lingkungan sosial. Adapun perubahan individual bukan yang dimaksud di sini. Karena terkadang satu individu dapat mengubah dirinya dengan memperbaiki hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hubungannya dengan orang lain.

Tetapi, perubahan ini tidak menghasilkan perubahan umum. Dan terkadang beberapa individu di tengah masyarakat berhasil mengubah diri mereka dengan memperbaiki diri dan memperat hubungan mereka dengan Allah, Rabb mereka, tetapi perubahan ini tidak cukup untuk mengubah masyarakat secara menyeluruh, fundamental dan mencakup semua aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, moral, hukum dan lain-lain.

Kaidah ini tersimpulkan dari kata قَوْمٌ pada ayat di atas. Karena kata ini berarti sekumpulan manusia, baik laki-laki atau perempuan.

Kaidah ketiga:

Perubahan itu ada kalanya positif dan ada kalanya negatif. Karena perubahan itu berarti beralih dari satu kondisi ke kondisi lain dan berpindah dari seti tempat ke tempat lain. Dengan demikian, ada kalannya perubahan diri itu bersifat positif, yaitu perubahan dari jelek menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, sehingga hasilnya pun positif.

Dan ada kalanya perubahan itu bersifat negatif, dimana manusia mengubah diri dari lebih baik menjadi baik, sehingga hasilnya adalah baik dan terkadang manusia mengubah diri dari baik menjadi jelek, sehingga kondisi mereka menjadi jelek.

Kami menyimpulkan kaidah ini dari firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d [13]: 11)

Jadi, seperti yang kita tahu, perubahan adalah peralihan dari satu kondisi ke kondisi lain, dari satu tatanan ke tatanan lain, dari sati sifat ke sifat lain, baik positif atau negatif.

Bukti-Bukti Empirik

Kaidah-kaidah ini memiliki bukti-bukti empirik yang dari kehidupan berbagai bangsa dan masyarakat di sepanjang zaman, dengan kondisi dan situasi yang berbeda-beda, baik di masa lalu atau masa kini, baik yang mukmin atau yang kafir.

Bukti empirik pertama mengenai ayat yang berbicara tentang perubahan dalam surat Al-Anfal adalah yang terkait dengan suatu kaum yang kafir, yaitu kaumnya Fir’aun dan generasi sebelum mereka.

Ketika mereka mengubah kondisi mereka menjadi tidak menyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah pada mereka dan membalasnya dengan sikap keras kepala, maka Allah menghukum mereka dengan menghentikan turunnya nikmat pada mereka dan menghancurkan apa yang dibuat oleh Fir’an dan kaumnya.

Tetapi, penulis akan mengambil dua bukti empirik yang terjadi setelah kenabian Muhammad Saw.

Bukti empirik pertama:

Bukti empirik ini kembali kepada empat belas abad silam, ketika bangsa Arab terdiri dari kabilah-kabilah yang bersengketa. Satu kabilah menyerang kabilah lain, menawan kaum perempuan dan keluarga, serta membunuh kaum laki-laki atau menawannya.

Bangsa Arab waktu itu berada dalam kondisi terbelakang dan jatuh dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Apabila jika mereka dibandingkan dengan negara Persia dan Romawi di semua bidang. Dalam bidang politik, ada sebagian bangsa Arab tunduk kepada Persia dan sebagian yang lain tunduk kepada Romawi.

Dalam bidang sosial, tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup telah mewarnai mayoritas kabilah. Penyakit sosial seperti perzinahan dan pernikahan istibdha’ (hanya untuk seksual) telah mewabah.

Perempuan dianggap sebagai benda yang bisa diperebutkan kerabat laki-lakinya, meskipun mereka adalah anaknya. Siapa yang lebih dahulu menaruh mantelnya di atas tubuh perempuan yang ditinggal mati suaminya, maka perempuan itu menjadi miliknya.

Ia bebas menikahinya meskipun ia adalah mantan istri bapaknya, atau menikahkannya dengan laki-laki lain dan mengambil maharnya.

Di bidang ekonomi, riba telah menjadi praktik umum. Padahal riba itu dapat mengakibatkan kekayaan terpusat pada segelintir orang, sedangkan mayoritasnya dalam keadaan miskin. Mereka menjadi korban ketamakan rentener dan perilakunya yang tak manusiawi. Karena debitur dapat menarik harta benda kreditur jika tidak sanggup melunasi hutangnya.

Apabila kabilah-kabilah Arab atau sebagiannya mengalami kelaparan, maka mereka keluar untuk merampok Persia dan Romawi. Dan di bidang akhlak dan ibadah, di zaman itu Allah memandang seluruh penduduk bumi dengan pandangan murka, kecuali sebagian kecil dari Ahli Kitab.

Dalam bidang peradaban, baik pemikiran atau materi, bangsa Arab tidak memiliki pemikiran cemerlang yang dapat mereka persembahkan kepada umat manusia, sebuah inovasi atau penemuan ilmiah.

Mereka adalah bangsa yang illateral. Sedemikian jauh peradaban mereka tertinggal hingga satu individu tidak dapat membedakan antara masjid dan kamar mandi. Saat itu banyak orang yang berdiri tanpa malu dan sungkan untuk kencing di dalam masjid.

Keterbelakangan dan kemunduran ini dapat Anda temukan buktinya dari kesaksian orang-orang yang pernah mengalami masa jahiliyah seperti Ja’far bin Abu Thalib ketika berbicara kepada raja Najasyi. Ia berkata, “Raja, dahulu kami adalah kaum jahiliyah yang menyembah berhala, makan bangkai, melakukan perbuatan mesum, memutus silaturahim dan berbuat jahat kepada tetangga.”

Juga seperti kesaksian ‘Aisyah RA ketika menggambarkan pernikahan di masa jahiliyah, bahwa ia memiliki empat macam; tiga di antaranya merupakan bentuk-bentuk zina. Pertama, nikah istibdha’, yaitu ketika seorang suami melihat kebangsawanan pada diri orang lain, lalu suami tersebut mengirimkan istrinya agar disetubuhi orang itu.

Jika istrinya melahirkan seorang anak, maka nasabnya dikaitkan dengan suami. Seperti seseorang yang mengirimkan kuda betinanya kepada kuda jantan tetangganya agar keturunannya menjadi unggul. Kedua, nikah rahthun, yaitu seorang perempuan digauli oleh beberapa orang laki-laki layaknya seperti suami.

Jika perempuan itu melahirkan seorang anak, maka ia memanggil semua laki-laki yang menggaulinya. Semuanya harus datang. Lalu perempuan itu menasabkan anaknya kepada salah seorang laki-laki tersebut.

Ketiga, nikah rayat, yaitu seorang perempuan digauli oleh beberapa orang laki-laki layaknya seperti suami. Jika perempuan itu melahirkan anak, maka ia memanggil semua laki-laki itu dan memanggil seorang juru sidik nasab, lalu anak itu dinasabkan kepada salah seorang di antara mereka menurut kemiripan antara anak dengan laki-laki tersebut.

Rasulullah Saw. diutus saat bangsa Arab dalam kondisi terbelakang, jatuh dan bejat seperti ini. Lalu Rasulullah Saw. berbicara kepada mereka tentang agama ini, mengajak mereka untuk beriman kepada Allah dan tunduk kepada-Nya dengan mengesakan-Nya, patuh dan taat kepada-Nya dan meninggalkan syirik. Lalu mereka beriman kepada Rasulullah Saw., mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya dan berjuang bersamanya. Karena itu, Allah pun mengubah keadaan mereka dan mengentaskan mereka dari kubangan syahwat dan tempat sampah menuju puncak kejayaan yang tinggi. Allah memindah mereka dengan peralihan yang jauh dan cepat. Mereka pun menjadi pemimpin umat manusia yang membawa pelita hidayah. Semua orang mencari simpati mereka dan berambisi untuk mendapatkan kedudukan di hadapan mereka.

Dahulu mereka mati, lalu Allah menghidupkan mereka di segala bidang kemanusiaan. Allah berfirman,

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” (QS Al-An’am [6]: 122)

Mereka telah menyinari hati dengan iman, memakmurkan jiwa dengan tauhid, membahagiakan banyak orang dengan agama ini selama berabad-abad. Hal itu berlangsung hingga permulaan abad 20 Masehi, atau pertengahan abad 14 Hijriah. Ketika mereka telah mengubah dan mengganti, meninggalkan Kitab Rabb mereka, membuangnya ke belakang punggung, ketika moral jahiliyah telah mewabah di tengah mereka, ketika mereka menerapkan hukum yang tidak diridhai Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin yang shalih. Lalu, apa yang terjadi sesudah itu? Kondisi mereka memberi Anda jawaban yang sebenarnya, seperti yang Anda lihat dan dengar.

Keterbelakangan dan kemunduran itulah jawabannya. Mereka kembali berada di ekor kafilah. Mereka mengharapkan kemuliaan dari musuh-musuh mereka. Satu kelompok loyal ke Timur dan kelompok lain loyal ke Barat.

Sungguh, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah kepada diri mereka sendiri.

Umat Islam pernah mengubah diri dari jelek menjadi baik di masa lalu, lalu Allah mengubah kondisi mereka menjadi baik. Sesudah itu, mereka mengubah diri dari yang terbaik menjadi yang terjelek, lalu Allah pun mengubah kondisi mereka menjadi jelek. Perubahan pada dua kondisi itu telah terjadi di masa lalu dan masa sekarang, positif dan negatifnya, sehingga buahnya pun dipetik.

Bukti empirik kedua dari masa kini:

Sejarah menuturkan kepada kita bahwa Amerika dahulu adalah salah satu wilayah jajahan Inggris. Emperium Inggris saat itu tidak sudah mencapai puncak kejayaannya. Tetapi ketika bangsa Amerika bertekad untuk merdeka dan mengubah mental terjajah dan inferior dalam diri mereka, maka Allah pun mengubah keadaan mereka. Akhirnya mereka memperoleh kemerdekaan. Bangsa Amerika terus menaiki tangga perubahan sampai menjadi salah satu negara terbesar di dunia, jika memang bukan yang terbesar. Setelah itu Inggris menjadi pengikut Amerika. Banyak negara dunia yang mencari simpati Amerika dan berusaha memperoleh kedudukan yang baik di mata Amerika, terlebih negara tempat kita tinggal ini.

Penulis berharap pembaca tidak keliru memahami bahwa penulis sedang memuji Amerika dan mencela Inggris. Karena masing-masing adalah negara kafir yang memusuhi Islam. Kami tidak menaruh rasa cinta atau hormat kepada keduanya. Sebaliknya, kami membencinya sebagaimana kami membenci setiap negara kafir. Kami memiliki perhitungan sendiri dengan mereka pada saat kami telah mengubah apa yang ada dalam diri kami.

Yang penulis maksud hanyalah mengajukan bukti empiris mengenai kaidah-kaidah perubahan. Karena orang kafir pund apat mengubah keadaannya menjadi lebih baik sehingga keadaan pun menjadi baik dan mengubahnya menjadi lebih jelek sehingga keadaannya menjadi jelek. Ini merupakan hukum umum yang mencakup semua manusia.(bersambung)

*) DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris

DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris adalah anggota Parlemen Jordania. Berasal dari desa Falujah, Palestina yang diduduki Israel 1949. Lahir tahun 1940. Menjadi Anggota Parlemen Jordania pada tahun 1989, kemudian terpilih kembali pada tahun 2003. Sempat dicabut keanggotaannya sebagai anggota parlemen Jordania karena melayat saat terbunuhnya Az-Zarkawi, pimpinan Al-Qaedah di Irak, kemudian dipenjara selama 2 tahun dan dibebaskan berdasarkan surat perintah Raja Abdullah II bersama temannya sesama anggota perlemen Ali Abu Sakr.

DR Abu Faris aktivis Gerakan Dakwah di Jordania. Meraih gelar doktor dalam bidang Assiyasah Assyar’iyyah (Politik Islam). Kepala bidang Studi Fiqih dan Perundang-Undangan di Fakultas Syari’ah Universitas Jordania. Beliau juga Professor pada Fakultas Syari’ah pada universitas tersebut. Di samping itu, beliau juga Direktur Majlis Tsaqofah Wattarbiyah pada Lembaga Markaz Islami Al-Khairiyah. Mantan Anggota Maktab Tanfizi Ikhwanul Muslimin, Anggota Majlis Syura Ikhwanul Mislimin dan Partai Ikhwan di Jordania.

Beliau terkenal dengan ketegasannya, ceramah-ceramah yang dahsyat di Masjid Shuwailih, kota Oman. Beliau memiliki lebih dari 30 karya buku terkait Hukum Islam, Siroh Nabawiyah, Politik Islam, Gerakan Islam. Syekh DR. Abu Faris memiliki ilmu syari’ah yang mendalam sehingga menyebabkan Beliau pantas mengeluarkan fatwa-fatwa syar’iyah. Beliau juga sangat terkenal kemampuan penguasaan pemahaman Al-Qur’an dan tafsirnya.

source: Eramuslim.com

Memaknai Rabithah

assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
kawan...
penulis yakin dan percaya bahwa kawan-kawan sekalian sangat paham mengenai makna sebuah do'a...
tapi izinkanlah kali ini penulis coba berbagi tentang apa yang penulis ketahui tentang sebuah do'a, sebuah do'a yang telah merubah kepribadian penulis...
dari kepribadian yang bisa dibilang tak beradab hingga menjadi lebih baik seperti sekarang (yang gak kenal penulis rugi banget.../*Pe De mode: ON).

Kawan, rabithah adalah sebuah do'a yang terdapat pada akhir runtunan panjang al-ma'tsurat qubra maupun shugra, mungkin di antara kawan-kawan pembaca telah menjadikannya sebagai rutinitas kawan-kawan. Namun pernahkah kawan-kawan memaknainya? atau minimal membaca artinya?
"Yaa Allah, sesungguhnya Engkau maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu dalam keta'atan pada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari'at-Mu, maka kuatkanlah ikatannya...Yaa allah, abadikanlah kasih sayangnya, tujukilah jalan-jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah padam. lapangkanlah dadanya dengan limpahan aman dan keindahan tawakkal pada-Mu, hidupkanlah dengan ma'rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan pembela. Amin. Dan Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan kepada sahabat-sahabatnya...."

hmmm, kawan, sangat rugi bila kita tak mengetahui artinya saat kita membaca do'a ini.
karena melalui Rabithah ini kita bisa menyelesaikan perselisihan dengan saudara kita, bisa melembutkan hati-hati kita, dan bisa mempererat ukhuwah di antara kita.
bukankah Rasul mulia pernah bersabda:"belum dikatakan beriman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri..".
kawan, manalah mungkin kita bisa mencintai saudara kita seiman bila hati kita tidaklah terpaut dengannya (mereka).
keterikatan hati ini bisa kita peroleh melalui do'a rabithah, bayangkan wajah saudara kita tadi (ingat, ini bukan do'a buat cari jodoh loh....).
penulis berani mengatakan di rubrik umum seperti ini pastilah karena penulis telah mencoba dan membuktikan dahsyatnya do'a rabithah (sebenarnya yang namanya do'a apapun bentuknya mah dahsyat asal sungguh-sungguh berharap pada-Nya, tapi lebih dahsyat lagi bila do'a tersebut ada petunjuknya).

pernah sekali waktu penulis merindkan seorang al-akh yang sudah lama tak berkomunikasi (karena jarak, kesibukan, dan pastinya nomor HP yang berganti), penulis ingat akan sebuah pesan ustadz, kalo Rabithah itu pengikat hati (sekali lagi penulis ingatkan, Rabithah bukan do'a buat minta jodoh !!), lalu penulis baca dengan membayangkan wajah al-akh tersebut dengan penuh pengharapan.
Setelah itu penulis berserah diri pada Allah...
Luar biasa, tak berapa lama (kalo gak salah gak sampai hitungan jam), ada sebuah telpon masuk, dan, wow...ternyata dari al-akh yang penulis rindukan.
dan luar biasa lagi, kejadian yang sama telah beberapa kali penulis alami.

apa cuma itu yang pernah penulis alami?
gak !
banyak lagi yang lainnya, mungkin pada kesempatan ini penulis ingin certia sebuah pengalaman lagi (jiahh, lagi-lagi penulis cerita, jangan ngantuk ya...)
waktu itu penulis sedang kesal dengan sikap salah seorang al-akh, sikapnya begitu arogan dan seperti memahami semua hal (hmm,sikap ini juga masih sering muncul pada diri penulis..hihihiii...), kesal, itulah yang ada di hati penulis. Lalu penulis coba untuk sedikit tenang dan sholat, setelah sholat, penulis baca do'a rabithah, dan membayangkan wajahnya.
Subhanallah, semua pesan yang tadinya membuat penulis kesal, semua perkataan yang membuat penulis dongkol, dan semua sikap yang buat penulis eneg berubah. apa tulisannya berubah?atau perkataan yang telah terucap?atau sikap yang tela terbuat?
TIDAK !!
yang berubah adalah cara penulis menilainya, akhirnya semua tadi terasa indah, semua terlihat senagaitanda cinta dan perhatian al-akh terhadap penulis...
luar biasa, ba'da itu, penulis komunikasi lagi denga beliau, bisssss (ini improvisasi,bagaikan semak habis terbakar, masih ada api sedikit lalu disiram dengan air, bayangin ya kawan...hihiii :D), rasanya sangat nyaman, ia minta maaf....dan komunikasi itupun menjadi sangat indah....

kawan, setelah semua yang penulis sampaikan tadi, tidaklah ada maknanya bila kawan-kawan sekalian tak melakukannya, apa lagi tak membacanya dengan lapang dada.

penulis sadari dalam penulisan terdapat banyak kelemahan dan kekurangan, oleh karena itu penulis harapkan bimbingan dan kritikan yang membangun dari kawan-kawan...

akhirulkalam...
billahi taufiq walhidayah...
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

kunjungi juga:
http://urang-piliang.mofuse.mobi/


jazaakumullahu khairan...

Sikap Sebelum dan Sesudah Menjadi Penguasa

dari Editorial Eramuslim.com
Senin, 14/12/2009 13:26 WIB


“Aku hanyalah orang biasa seperti halnya kamu sekalian. Hanya saja aku memikul beban yang lebih besar”.

Penghasilannya sebelum dan sampai hari, di mana ia diangkat menjadi penguasa, mencapai 40.000 dinar. Semua itu merupakan pemasukan dari fasilitas yang diperolehnya sebagai seorang keturunan penguasa, yang berasal dari tanah-tanah yang dimilikinya dan peninggalan orangtuanya, yang juga seorang penguasa, yang melimpah ruah.

Justru, sesudah ia menjadi seorang penguasa dan mengenggam kekuasaan, terbukalah matanya terhadap kenyataan yang terpampang dengan sangat jelas dihadapannya, bahwa semua kekayaan yang dimiliki oleh para penguasa sebelumnya, bukan kekayaan yang diperoleh dengan cucuran keringat. Semua kekayaan yang didapatinya dan bertumpuk-tumpuk dalam keluarganya, semata-mata karena adanya hak-hak istemewa.

Dan, semua itu hakikatnya, tak lain adalah milik rakyat, yang dirampas secara sewenang-wenang. Dengan cara itulah para pendahulunya mendapatkan harta yang melimpah, bukan dari cucuran keringat. Sementara itu, rakyatnya dizalimi, dan tidak mendapatkan hak-haknya.

Maka, ketika ia mengambil alih tampuk kekuasaan, dimulailah dari dirinya sendiri, dan dipindahkannya semua hak milik dan kekayaannya ke Baitul Mal. Bahkan, salah satu kekayaan yang menjadi miliknya, dan dianggap paling berharga berupa kebun, diserahkan pula kepada Baitul Mal. Padahal, kekayaan itu bukan dari siapa-siapa, melainkan warisan dari yang diterima dari pendahulunya, yang pernah menjadi penguasa, yang sangat luas pengaruhnya.

“Dari mana ayahanda memperoleh kekayaan itu”, tanya anaknya yang sudah menjadi penguasa, dan memegang kekuasaan, yang amat luas itu.

Allah telah menetapkan kepada Rasul-Nya saat kemenangan di perang Khaibar, bahwa tanah ini (Khaibar) merupakan bagian khusus bagi orang-orang yang berada dalam perjalanan (Ibnu Sabil). Ketentuan ini terus berjalan sampai kekuasaan jatuh ke tangan penguasa sesudahnya, dan ia menghadiahkan tanah ini kepada pamannya, dan kemudian kepada ayahnya.

Sungguh, sangat luar biasa tanah itu juga diserahkan kepada Baitul Mal, meskipun itu menjadi hak miliknya, tapi tetap ia serahkan kepada Baitul Mal.

Kepada gubernurnya di kota Madinah, diperintahkannya agar menyita tanah, dan mengembalikannya sebagai milik negara. Tidak cukup sampai disitu saja, diserahkannya pula setiap keping gaji yang diperolehnya sebagai penguasa. Baginya, apa-apa yang ada sekarang sudah mencukupi kebutuhan dunianya.

Penghasilannya hanya dua ratus dinar pertahun, yang diperolehnya dari hasil sebidang tanah kykang tidak luas, yang dibelinya dengan uang hasil cucuran keringatnya sendiri. Dari penghasilan ini ia menghidupi keluarganya, padahal ia sebagai penguasa. Padahal, penghasilan menjelang diangkat menjadi seorang penguasa, masih 40.000 dinar.

Semua tanah yang menjadi miliknya telah diserahkan kepada negara. Semua kekayaan yang melimpah itu diserahkannya kepada Baitul Mal. Kendaraan dan ternak yang harganya mencapai 23.000 dinar, dijual dan diserahkannya pula.

Dicabutn ya pula hak-haknya yang sah sebagai seorang penguasa, yakni gajinya, bukan seperdua atau sepertiga, tapi seluruhnya. Akirnya, yang tinggal padanya hanya sebidang tanah yang tidak luas,dan dengan penghasilan dua ratus dinar pertahun itulah ia hidup sebagai kepala negara. Ini bukan sebuah fiksi. Tapi, fakta kejadian yang pernah di zaman ke khilafahan Islam.Wallahu’alam.

Hasan Albanna

Syeikh Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906, yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan secara Islam itulah maka ia boleh berkata: “Hanya Islamlah ayah kandungku.” Hal itu kerana rasa cintanya terhadap ajaran Islam, kerana ajaran itulah yang membentuk watak dan keperibadiannya.

Ayah kandungnya sendiri adalah Syeikh Ahmad Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan as-Sa’ati, atau si tukang jam.

Hasan Al-Banna hafal 30 Juz kitab suci Al-Quran, padahal umur beliau pada saat itu baru 20 tahun. Ketika umur yang sekian itu beliau berhasil menginsafkan Syeikh Abdul Wahab Jandrawy, Pemimpin (Syeikh) Al-Azhar University yang mempunyai pengaruh besar pada segenap lapisan masyarakat dan mempunyai hubungan yang akrab dengan berbagai pihak.

Namun Syeikh yang banyak ilmunya itu tidak mempunyai roh jihad membela rakyat dan Islam dari kezaliman Raja Farouk dan penjajah Inggeris. Kecuali Syeikh Jandrawy ini adalah seorang pemimpin Sufi yang mempunyai banyak pengikut setiap malam berzikir dan berselawat dengan nyanyian-nyanyian khusus ahli Thariqat, tetapi mereka tidak mengerti sama sekali bahawa mereka itu terkurung oleh suasana yang diliputi kejahilan dan kejumudan umat. Mereka jauh dari semangat dan keagungan Islam kerana suasana kemunduran umat yang membelenggu.

Pada tahun 1927, ketika Hasan Al-Banna baru berusia 21 tahun, beliau telah lulus dari Perguruan Darul Ulum Mesir, beliau terus mengajar di Ismailiyah. Di Ismailiyah beliau semakin mengerti suasana rakyat Mesir yang telah sempurna rosaknya. Amat nyata perbezaannya antara kehidupan bangsa Mesir yang menjadi pekerja kasar dengan rumah serta perkampungan yang buruk; dengan kehidupan orang-orang kulit putih yang menempati gedung-gedung megah dengan segala keangkuhannya. Kecuali kemiskinan dan kebodohan, rakyat juga banyak yang rosak moralnya kerana pengaruh kehidupan Barat yang sengaja direka oleh kaum penjajah untuk menghancurkan rakyat Mesir dari segi yang lain.

Dalam suasana yang demikian itulah Hasan Al-Banna mendirikan suatu jemaah yang dinamakan “Al-lkhwanul Muslimin” (Persaudaraan orang-orang Muslim) pada bulan Dzul Kaedah 1347 Hijrah (Mac 1928) yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Semangat kedua beliau itulah sebagai rantai yang menyambung kepada cita yang diinginkan oleh Hasan Al-Banna beserta kawan kawannya di dalam membentuk organisasi tersebut.

Adapun khiththah gerakan lkhwanul Muslimin yang menuju cita yang diredhai Allah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW itu melalui tahapan yakni:
1. Membentuk peribadi Muslim
2. Membentuk rumahtangga dan keluarga Islam
3. Cara hidup kampung Islam
4. Menuju kepada negeri Islam
5. Menuju kepada pemerintahan Islam.

Gerak Ikhwanul Muslimin meliputi segala bidang dakwah, mulai pendidikan terhadap anak-anak, pelajaran Al-Quran bagi orang dewasa, pendidikan keluarga, bidang sosial walaupun nampaknya sederhana sekalipun, dari kampung-kampung sampai kepada Universiti di kampus-kampus, mulai artikel sampai penerbitan buku dan majalah-majalah, sampai kepada urusan politik dalam amar makruf nahi mungkar, dan sebagainya.

Sampai kepada Muktamar Ikhwanul Muslimin yang ketiga tahun 1934, tampak tokoh-tokoh intelektual dan para ulama terkenal yang menjadi anggota dan pendukung Ikhwan, seperti Syekh Thanthawi Jauhari, seorang ahli tafsir terkenal dan Guru Besar. Kemudian Sayid Quthub, Dr. Abdul Qadir Audah, seorang Hakim terkenal, dan juga Dr. Hasan Al-Hadlaiby, dan sebagainya.

Syeikh Hasan Al-Banna bersama kawan-kawannya tidak mampu berdiam diri menghadapi kekuasaan Raja Farouk yang telah tenggelam dalam kemabukan, rasuah, dan sewenang-wenang. Perbezaan pendapat, perselisihan, dan akhirnya pertentangan dengan penguasa yang aniaya dan dibantu oleh kekejaman penjajah Inggeris tidak dapat dihindarkan.

Tentu saja penyokong Kerajaan bekerja keras untuk dapat mengawasi gerak-geri para anggota Ikhwanul Muslimin. Kaum Imperialis Inggeris pula di dalam mencelakakan Ikhwanul Muslimin mempunyai peranan yang sangat besar.

Akhirnya pada pagi hari tanggal 13 Februari 1949 beliau memanggil puteranya. Kemudian beliau bercerita kepada puteranya itu bahawa semalam beliau bermimpi merasa dikunjungi Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata kepada beliau: “Wahai Hasan, kamu telah menunaikan kewajipan, semoga amalmu diterima oleh Allah.”
Kemudian pada petang harinya, beliau meninggalkan rumah bersama kawan-kawan seperjuangan pergi menunaikan tugas. Tiba-tiba beliau di tembak oleh seorang anggota Polis kakitangan Raja Farouk, dan tersungkurlah beliau di tepi jalan Kairo, dan beliau menemui syahidnya setelah sampai di hospital.

Beliau meninggal dunia kerana ditembak di pinggir jalan raya, dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Bahkan pembunuhnya mendapat hadiah dari Raja Farouk.

Jenazah beliau hanya disolatkan oleh ayah beliau sebagai Imam dan anak lelaki beliau sebagai makmum. Hanya dua orang. Kerana di sekeliling rumah beliau dijaga ketat oleh askar negara untuk melarang siapapun masuk rumahnya memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.


Hasan Al-Banna
Dipublikasi pada Selasa, 23 September 2003 oleh abufaiz97
Artikel ini telah dibaca 1596 kali.
Topik: Kisah Tokoh Islam

Kisah Tokoh Islam Syeikh Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906, yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan secara Islam itulah maka ia boleh berkata: “Hanya Islamlah ayah kandungku.”

----------

Syeikh Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906, yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan secara Islam itulah maka ia boleh berkata: “Hanya Islamlah ayah kandungku.” Hal itu kerana rasa cintanya terhadap ajaran Islam, kerana ajaran itulah yang membentuk watak dan keperibadiannya.

Ayah kandungnya sendiri adalah Syeikh Ahmad Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan as-Sa’ati, atau si tukang jam.

Hasan Al-Banna hafal 30 Juz kitab suci Al-Quran, padahal umur beliau pada saat itu baru 20 tahun. Ketika umur yang sekian itu beliau berhasil menginsafkan Syeikh Abdul Wahab Jandrawy, Pemimpin (Syeikh) Al-Azhar University yang mempunyai pengaruh besar pada segenap lapisan masyarakat dan mempunyai hubungan yang akrab dengan berbagai pihak.

Namun Syeikh yang banyak ilmunya itu tidak mempunyai roh jihad membela rakyat dan Islam dari kezaliman Raja Farouk dan penjajah Inggeris. Kecuali Syeikh Jandrawy ini adalah seorang pemimpin Sufi yang mempunyai banyak pengikut setiap malam berzikir dan berselawat dengan nyanyian-nyanyian khusus ahli Thariqat, tetapi mereka tidak mengerti sama sekali bahawa mereka itu terkurung oleh suasana yang diliputi kejahilan dan kejumudan umat. Mereka jauh dari semangat dan keagungan Islam kerana suasana kemunduran umat yang membelenggu.

Pada tahun 1927, ketika Hasan Al-Banna baru berusia 21 tahun, beliau telah lulus dari Perguruan Darul Ulum Mesir, beliau terus mengajar di Ismailiyah. Di Ismailiyah beliau semakin mengerti suasana rakyat Mesir yang telah sempurna rosaknya. Amat nyata perbezaannya antara kehidupan bangsa Mesir yang menjadi pekerja kasar dengan rumah serta perkampungan yang buruk; dengan kehidupan orang-orang kulit putih yang menempati gedung-gedung megah dengan segala keangkuhannya. Kecuali kemiskinan dan kebodohan, rakyat juga banyak yang rosak moralnya kerana pengaruh kehidupan Barat yang sengaja direka oleh kaum penjajah untuk menghancurkan rakyat Mesir dari segi yang lain.

Dalam suasana yang demikian itulah Hasan Al-Banna mendirikan suatu jemaah yang dinamakan “Al-lkhwanul Muslimin” (Persaudaraan orang-orang Muslim) pada bulan Dzul Kaedah 1347 Hijrah (Mac 1928) yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Semangat kedua beliau itulah sebagai rantai yang menyambung kepada cita yang diinginkan oleh Hasan Al-Banna beserta kawan kawannya di dalam membentuk organisasi tersebut.

Adapun khiththah gerakan lkhwanul Muslimin yang menuju cita yang diredhai Allah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW itu melalui tahapan yakni:
1. Membentuk peribadi Muslim
2. Membentuk rumahtangga dan keluarga Islam
3. Cara hidup kampung Islam
4. Menuju kepada negeri Islam
5. Menuju kepada pemerintahan Islam.

Gerak Ikhwanul Muslimin meliputi segala bidang dakwah, mulai pendidikan terhadap anak-anak, pelajaran Al-Quran bagi orang dewasa, pendidikan keluarga, bidang sosial walaupun nampaknya sederhana sekalipun, dari kampung-kampung sampai kepada Universiti di kampus-kampus, mulai artikel sampai penerbitan buku dan majalah-majalah, sampai kepada urusan politik dalam amar makruf nahi mungkar, dan sebagainya.

Sampai kepada Muktamar Ikhwanul Muslimin yang ketiga tahun 1934, tampak tokoh-tokoh intelektual dan para ulama terkenal yang menjadi anggota dan pendukung Ikhwan, seperti Syekh Thanthawi Jauhari, seorang ahli tafsir terkenal dan Guru Besar. Kemudian Sayid Quthub, Dr. Abdul Qadir Audah, seorang Hakim terkenal, dan juga Dr. Hasan Al-Hadlaiby, dan sebagainya.

Syeikh Hasan Al-Banna bersama kawan-kawannya tidak mampu berdiam diri menghadapi kekuasaan Raja Farouk yang telah tenggelam dalam kemabukan, rasuah, dan sewenang-wenang. Perbezaan pendapat, perselisihan, dan akhirnya pertentangan dengan penguasa yang aniaya dan dibantu oleh kekejaman penjajah Inggeris tidak dapat dihindarkan.

Tentu saja penyokong Kerajaan bekerja keras untuk dapat mengawasi gerak-geri para anggota Ikhwanul Muslimin. Kaum Imperialis Inggeris pula di dalam mencelakakan Ikhwanul Muslimin mempunyai peranan yang sangat besar.

Akhirnya pada pagi hari tanggal 13 Februari 1949 beliau memanggil puteranya. Kemudian beliau bercerita kepada puteranya itu bahawa semalam beliau bermimpi merasa dikunjungi Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata kepada beliau: “Wahai Hasan, kamu telah menunaikan kewajipan, semoga amalmu diterima oleh Allah.”
Kemudian pada petang harinya, beliau meninggalkan rumah bersama kawan-kawan seperjuangan pergi menunaikan tugas. Tiba-tiba beliau di tembak oleh seorang anggota Polis kakitangan Raja Farouk, dan tersungkurlah beliau di tepi jalan Kairo, dan beliau menemui syahidnya setelah sampai di hospital.

Beliau meninggal dunia kerana ditembak di pinggir jalan raya, dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Bahkan pembunuhnya mendapat hadiah dari Raja Farouk.

Jenazah beliau hanya disolatkan oleh ayah beliau sebagai Imam dan anak lelaki beliau sebagai makmum. Hanya dua orang. Kerana di sekeliling rumah beliau dijaga ketat oleh askar negara untuk melarang siapapun masuk rumahnya memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.


(Sumber : www.daarut-tauhiid.org)

mengambil ibrah dari QS Yusuf (kisahnya dgn istri al-azis)

"Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata,"marilah mendekat padaku." Yusuf berkata,"Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.
Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusufpun berkehendak padanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinyakeburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih"
(QS Yusuf 23-24)

nah, pelajaran bagi kita, perasaan pada lawan jenis itu normal, itulah sunatullah, tapi bukan berarti kita harus ekspresikan secara gamblang.
adalah yusuf yang telah beri contoh, berlindunglah pada Allah, atas segala yang telah tertaut di hati, agar hati kita diridhai oleh Allah, dan kita tidak menzalimi diri kita dengan melawan fitrah kita sebagai hamba Allah yang taat dan fitrah kita sebagai manusia yang bernafsu.

mudah-mudahan Allah menjaga kita dari segala kerusakan hati, dan biarlah hati ini penuh dengan cinta pada Allah, hingga apapun rasa cinta yang hadir, merupakan bentuk-bentuk pengejawantahan cinta kita pada Allah...
dan dengan itulah kita meraih ridha Allah, dan menjadi generasi Rabbaniyin (generasi yang Rabbani) yang mana radhiallah wa radhu anh (diridahi Allah dan kita ridha akan keputusan Allah)....

wallahu a'lam bishshowab...
semoga bermanfaat...

Wasiat Dahsyat Penolak Kefakiran

Selasa, 27/01/2009 11:32 WIB
Cetak | Kirim | RSS
Islam itu sangat solutif, berbahagialah bila engkau seorang muslim, apalagi seorang muslim itu adalah enterpreuner (red. Pengusaha), kalaulah dia yakin akan jalannya, untuk berjihad di dunia melalui bisnis, tentulah dia memiliki dua ujung mata pedang dalam langkah perjuangannya, yaitu pertama : Ikhtiar yang sungguh sungguh dalam menjemput rezeki, dan kedua : Kekuatan amalan ibadah dan doa.

Kedua mata pedang tersebut saling menguatkan, kedua mata pedang tersebut menambah kekuatan keyakinan hamba atas kekuasaan Yang Maha Kuasa. Logika bisnis dan usaha kadang-kala menjadi terbalik, bahkan hasil yang di raih pun seringkali ilmu matematika ataupun indikator ekonomi tak mampu menjangkau.

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 35:2)

“Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang di kehendaki Nya di antara hamba-hambaNYA dan menyempitkan bagi (siapa yang di kehendakiNya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi Rezeki yang sebaik baiknya” (QS 34:39)

Pada saat krisis tiba, niscaya mereka para pribadi muslim haruslah merasa yakin dan tetap tenang. Mereka tidak gundah atas berita yang beredar di media masa, mereka tidak turut serta menggaungkan senandung yang sama dengan kaum yang lain , mereka punya sikap yang unik dan berbeda dengan kaum yang lain, alasannya karena mereka punya keyakinan yaitu mereka memiliki ALLAH, PEMILIK SEGALA KEPUTUSAN, PEMBERI REZEKI.

Seringkali ummat islam terlupakan adanya kekuatan ujung mata pedang yang kedua ini yaitu kekuatan amalan ibadah dan doa , sebahagian ummat islam sekarang cenderung mengikuti pola manajemen barat yang serba ‘sebab akibat’ secara rasional, yang tentunya paham barat tersebut telah nyata melupakan faktor Tuhan sebagai Penentu. Walaupun sebagian mereka berhasil dalam usahanya, maka hasil kerja yang di dapat paling tidak hanya memperbanyak digit nilai materi saja, dan hampa dalam nilai keimanan serta berpeluang hilang keberkahannya, ketahuilah bila niat dan hasilnya dasarnya sudah menyimpang , hasil itu semua kelak akan nihil di hadapan Allah.

Rugi sekali bagi seorang muslim, apalagi kalangan pengusaha muslim khususnya, bila meninggalkan kekuatan yang satu ini, mereka punya Allah, mereka punya peluang doanya terkabul, mereka memiliki kesempatan yang lebih baik di banding orang kafir, kenapa kita harus tunduk kepada yang lainnya, bahkan melemahkan diri?

Banyak sekali hadist Nabi maupun kisah sahabatnya yang memberikan gambaran bagaimana seorang muslim berdoa, kesemuanya merupakan karuniaNYA agar ummat islam khususnya para pengusahanya agar memiliki pegangan dan panduan dalam melangkah di kehidupan dunia ini, menjadi pengelana yang tak akan tersesat di antara ujian kehidupan berupa kelapangan maupun kesempitan.

…………

Adalah Abdullah bin Mas’ud , salah seorang sahabat dekat Rasul SAW. Di masa Khalifah Usman bin Affan, dia menderita sakit dan terbaring di atas tempat tidurnya, Khalifah usman menjenguknya dan menyaksikan Abdullah bin Mas’ud dalam keadaan sedih.

Usman : “Apa yang membuatmu sedih?”

Abdullah : “Dosa dosaku”

Usman : “Apa yang engkau inginkan dariku, aku akan penuhi?”

Abdullah : “Saya merindukan rahmat Allah”

Usman : “Jika engkau setuju, aku akan memanggilkan tabib”

Abdullah : “Tabib hanya membuatku sakit”

Usman : “Jika engkau tak keberatan, aku akan perintahkan bendaharaku untuk memberimu harta dari baitul mal”

Abdullah : “Ketika aku amat membutuhkannya, engkau tak memberiku sesuatu, dan sekarang tatkala aku sama sekali tak membutuhkannya, engkau hendak memberikan sesuatu!”

Usman : “Pemberian itu juga hadiah untuk putri putrimu”

Abdullah : “Mereka juga tak membutuhkan sesuatu, karena aku telah berwasiat kepada mereka untuk membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kefakiran”

Nah, saudara muslimku, informasi ini sudah sampai kepada anda semua, jangan di sia-siakan , mari kita lakukan amalan ini, Insha Allah, kita mampu untuk tetap tegar dalam menghadapi ujian kehidupan ini dan niscaya Insha Allah, kefakiran pun tak akan hadir di hadapan kita semua. Dan berilah wasiat yang sama kepada orang orang yang anda cintai, agar mereka bisa seberuntung seperti yang di sabdakan Rasul SAW di atas. Amin.

mmnasution@eramuslim.com

Sedekah Menaungi Pemiliknya Di Hari Kiamat

Sabtu, 07/11/2009 10:10 WIB
Cetak | Kirim | RSS
oleh: Ustadz Ihsan Tandjung
Seorang muslim senantiasa khawatir akan nasibnya kelak di hari Kiamat atau hari Berbangkit. Sebab ia faham bahwa pada hari itu umat manusia bakal dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar sedangkan matahari berada sangat dekat dari kepala setiap orang. Maka ketika itu setiap orang sangat ingin agar dirinya bisa bernaung di bawah suatu tempat bernaung agar dapat terhindar dari panasnya sengatan matahari.



Alhamdulillah, Nabi Muhammad memberitahu kepada kita ummatnya, ilmu mengenai apa saja perbuatan yang bila dikerjakan selagi hidup di dunia yang fana ini, dapat menyebabkan hadirnya naungan di hari Kiamat. Oleh sebab itu seorang muslim-mukmin yang cerdas pasti bersemangat mencari tahu perbuatan apakah gerangan itu. Seorang muslim cerdas sangat peduli dengan apa-apa yang memastikan dirinya selamat dan sukses dalam kehidupan di alam abadi akhirat, sesudah ia meninggalkan dunia fana. Bahkan lebih jauh daripada itu, seorang mukmin pasti berusaha sekuat tenaga mengamalkan ilmu tersebut agar janji yang ada bersamanya menjadi kenyataan kelak di hari tidak ada naungan kecuali naungan yang datang dengan izin dan ridho Allah. Itulah sebabnya seorang muslim tidak akan pernah puas mendalami sekedar ilmu yang sebatas demi kepentingannya hidup di dunia fana ini. Ia pasti akan getol memperluas wawasan ilmunya hingga mencakup perkara sesudah kematiannya. Demikianlah permohonannya kepada Allah:



اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

”Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia pusat perhatianku dan batas pengetahuanku.” (HR Tirmidzi)

Seorang beriman sangat faham bahwa bila ia hanya memiliki pengetahuan yang bermanfaat sebatas untuk kepentingan dan kemaslahatan hidupnya di dunia belaka, maka itu tidaklah terlalu startegis. Maka iapun mencari tahu apa saja pengetahuan yang menyebabkan dirinya mengerti hal-hal yang bakal dialaminya setelah kehidupannya di dunia. Dan semua ilmu tersebut hanya mungkin ia dapatkan berdasarkan informasi dari Allah dan RasulNya semata. Sebab semua ilmu yang melewati batas dunia termasuk ilmu mengenai hal-hal yang ghaib. Dan itu tidak bisa diketahui kecuali bila datang dari Allah Yang Maha Tahu perkara ghaib maupun nyata. Bahkan Nabi Muhammad tidak akan bisa menjelaskannya kecuali karena beliau sendiri telah diberitahu Allah.



Di antara keterangan Rasulullah ialah hadits yang menyatakan bahwa naungan orang beriman di hari Kiamat sangat terkait dengan kebiasaannya mengeluarkan sedekah sewaktu hidupnya di dunia. Ketika di padang Mahsyar setiap orang menunggu giliran dirinya diadili serta timbangan kebaikan dan keburukannya diperhitungkan, maka semua orang bakal merasakan panasnya matahari di atas kepala masing-masing. Namun orang-orang yang bersedekah bakal memperoleh naungan dari matahari karena sedekahnya itu hingga hukuman alias vonis ditetapkan di antara manusia.



سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :
كُلُّ امْرِئٍ فِي ظلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَاسِ ، أو قال :
حَتَّى يُحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ قال يزيد :
فَكَانَ أَبُو الخَيْرِ لَا يُخْطِئُهُ يَومٌ إلَّا تَصَدَّقَ مِنْهُ بِشَيْءٍ ،
أَوْ كَعْكَةً أَوْ بَصَلَةً أوْ كَذا
“Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari Kiamat) hingga diputuskan di antara manusia atau ia berkata: “Ditetapkan hukuman di antara manusia.” Yazid berkata: ”Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah padanya dengan sesuatu, walaupun hanya sepotong kueh atau bawang merah atau seperti ini.” (HR Al-Baihaqi – Al-Hakim – Ibnu Khuzaimah)



Dalam hadits riwayat Imam Ahmad Nabi Muhammad dengan jelas dan tegas menyatakan sebagai berikut:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ
Bersabda Rasulullah saw: “Naungan orang beriman di hari Kiamat adalah sedekahnya.” (HR Ahmad)



Saudaraku, marilah kita rajin bersedekah agar memperoleh naungan di hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Sungguh beruntung orang beriman yang melazimkan dirinya setiap hari mengeluarkan sedekah sebagai bentuk investasi cerdas untuk melindungi dirinya di hari yang sungguh sangat menyulitkan dan menakutkan kebanyakan manusia. Seperti yang dikatakan oleh periwayat hadits di atas yakni Yazid: ”Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah padanya dengan sesuatu, walaupun hanya sepotong kueh atau bawang merah atau seperti ini.”

Dan ketahuilah saudaraku, jangan pernah memandang remeh pemberian yang engkau keluarkan. Sebab bukan banyaknya sedekah yang menyebabkan naungan di hari Kiamat. Melainkan keikhlasan kitalah yang menyebabkannya. Sehingga dalam hadits lainnya Nabi bahkan bersabda sebagai berikut:



قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحْقِرَنَّ
مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ


“Janganlah kamu meremehkan sedikitpun perbuatan ma’ruf, sekalipun kamu sekedar menemui saudaramu dengan wajah berseri.” (HR Muslim)



يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمِسْكِينَ لَيَقُومُ عَلَى بَابِي فَمَا أَجِدُ لَهُ شَيْئًا
أُعْطِيهِ إِيَّاهُ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ لَمْ تَجِدِي شَيْئًا
تُعْطِينَهُ إِيَّاهُ إِلَّا ظِلْفًا مُحْرَقًا فَادْفَعِيهِ إِلَيْهِ فِي يَدِهِ




“Ya Rasulullah, semoga Allah memberikan rahmat kepadamu. Sesungguhnya seorang miskin berdiri di depan pintu rumahku, maka aku tidak menemukan sesuatu yang bisa aku berikan kepadanya.” Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya: ”Jika kamu tidak menemukan sesuatu yang bisa kamu berikan kepadanya selain kuku binatang yang dibakar, maka serahkanlah kepadanya di tangannya.” (HR Tirmidzi)



اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ


“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan serta sikap pengecut dan kebakhilan.” (HR Muslim)

Source : Eramuslim.com

Beli Tiket Pesawat dengan Shalat Tahajud

oleh M. Arif As-Salman
Kamis, 26/11/2009 07:50 WIB
Cetak | Kirim | RSS
Wajahnya tampak berseri, hatinya diliputi kebahagiaan. Apa yang selama ini ia harapkan kini telah tercapai. Tak terhingga rasa syukurnya pada Allah ta`ala, yang telah mengabulkan doa-doa yang ia panjatkan di keheningan malam, di saat manusia terlelap tidur.

Ia bertambah yakin pada janji-janji Allah. Ia semakin mantap dalam keimanannya. Amal solehnya bertambah giat dan doa-doanya semakin panjang dan khusyuk.

Sudah sekian tahun ia hidup di negeri para Nabi ini, dalam pengembaraannya mencari ilmu. Berbagai manis-asam garam kehidupan telah ia rasakan. Pahit dan getirnya telah ia lalui. Namun ia selalu tampak tabah dan gagah. Tak tergores kegundahan di wajahnya dan tak berbekas kegelisahan di sinar matanya.

Saya acap kali bertemu dengannya dalam beberapa kesempatan. Setiap kali berjumpa, wajahnya seakan tak pernah jemu tersenyum pada semua orang. Semangat hidupnya seolah tak pernah padam. Saya salut dengan Ust. Abu Anshar-nama samaran- yang telah dikarunia dua orang anak laki-laki ini.

Sore itu, selepas shalat ashar, seorang sahabatnya Ust. Hamdani-nama samaran- memberitahukan kepada saya bahwa Ust. Abu Anshar saat ini tengah berada di Indonesia.

"Ada kisah yang sangat menarik dan mengandung banyak pelajaran dari kepulangan ust. Abu Anshar," cerita ust. Hamdani kepada saya.

"Apa hal yang menarik itu Ustadz?" Tanya saya penuh penasaran.

Ust. Hamdani mulai bercerita, "Hari itu ust. Abu Anshar datang ke rumah saya. Ia bercerita, bahwa akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini untuk menjenguk keluarganya yang tertimpa musibah gempa di kampung halaman. "

"Saya pulang bukan karena banyak uang, tapi alhamdulillah ada rezki dari Allah", kata ust. Abu Anshar.

Saya pun jadi penasaraan, "Bagaimana rezki itu datang Ustaz?" Tanya saya padanya.

Mulailah Ust. Abu Anshar bercerita pada saya, "Begini, beberapa hari yang lalu, saat saya shalat isya di mesjid dekat rumah saya, seorang laki-laki dari Arab Saudi yang tengah transit di Mesir menghampiri saya.

"Assalamu`alaikum, kamu orang Indonesia?

"Wa`alaikum salam, iya, betul.."

"Kamu tinggal dimana?"

"Saya tinggal dekat dari sini."

"Sering shalat ke mesjid?"

"Alhamdulillah, saya selalu berusaha untuk shalat di mesjid lima waktu"

"Bagus sekali jika begitu, semoga tetap istiqamah ya"

"Amin", jawab saya.

Kemudian ia bertanya lagi.

Oiya, di Indonesia kamu tinggal di mana?"

"Saya tinggal di Sumatera."

"Oh, saya dengar Sumatera terkena musibah gempa beberapa waktu yang lalu.."

"Iya.."

"Bagaimana dengan keluarga kamu, adakah yang menjadi korban?"

"Alhamdulillah keluarga selamat, hanya saja rumah salah seorang keluarga kami hancur.."

"Innalillahi wainna ilaihi raji`un.."

"Kenapa kamu tidak pulang?"

"Saya diminta pulang oleh keluarga, tapi, belum ada rezki.."

"Oh begitu..Sabar ya, semoga Allah bantu dan berikan kemudahan.."

"Amin"

Tak lama kemudian, setelah sedikit ngobrol agar saling kenal. ia meminta izin untuk pergi, sebelum pergi ia memberi dua orang anak saya yang ikut shalat bersama saya, uang Le 10 (lebih kurang 17.000,-).

Esoknya saya kembali bertemu dengannya ketika shalat subuh di mesjid. Usai shalat ia mendatangi saya. Sambil mengeluarkan amplop yang ia keluarkan dari sakunya ia berkata,

"Saudaraku, ini ada sedikit rezki untuk kamu dari saya. Mudah-mudahan bisa membantu kesulitan yang kamu dapatkan saat ini."

"Saya bingung dan heran. Saya berusaha untuk menolak. Tapi, ia tetap memaksakan juga. Akhirnya, ia memasukkan amplop itu ke dalam saku baju saya. Hati saya masih berdebar. Belum selesai hati dan pikiran saya dari tanda tanya. Ia memohon izin untuk pergi. Saya pun tak lupa untuk berterima kasih padanya, dan mendoakan semoga Allah membalas kebaikannya. Saya juga tak lupa meminta nomer hpnya.

Setelah ia keluar dari mesjid. Rasa penasaran yang sejak tadi meliputi hati saya ingin saya tumpahkan. Amplop itu saya buka perlahan, saya ingin tahu apa isinya. Jantung saya masih berdebar-debar...

Ternyata.. di dalam amplop putih itu ada uang USD 700 (senilai lebih kurang 7 juta rupiah). Saya kaget. Apa saya tidak salah lihat. Atau mungkin salah hitung. Saya teliti kembali. Iya ternyata benar, saya tidak salah hitung. Saya lansung bersujud syukur di hadapan Allah. Tanpa terasa pipi saya basah. Air mata saya mengalir deras. Saya terharu. Allah telah mengabulkan doa-doa panjang yang saya panjatkan di penghujung malam selama ini.

Saya bergegas pulang ke rumah menemui istri . Setiba di rumah, saya katakan pada istri saya.

"Umi, ayo sujud syukur!"

Istri saya menjadi heran

"Kenapa Bi, ada apa?"

"Nanti abi bilang, sekarang Umi sujud syukur dulu, ntar Abi ceritain.."

Akhirnya istri saya sujud syukur.

Setelah itu saya ceritakan lah apa yang terjadi barusan di mesjid. Dan saya keluarkan uang itu dari amplopnya. Istri saya tak sanggup menahan rasa haru dan bahagia di hatinya..Ia kembali bersujud syukur pada Allah, sujud yang panjang dan penuh kepasrahan dan tak terasah pipinya basah...

Begitulah kisah yang saya alami. Sehingga saya bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini" kata ust. Abu Anshar menutup ceritanya.

Mendengar cerita beliau saya ikut terharu.

Lalu saya bertanya pada Ust. Abu Anshar, "Kalau boleh saya tahu, apa rahasianya sampai ustaz dapat rezki dari arah yang tak terduga tersebut?"

Beliau hanya senyum, "Semuanya sudah diatur Allah.." jawab beliau singkat.

"Iya, saya ngerti, tapi saya ingin tahu, apa yang selama ini ust. Abu Anshar lakukan, maksud saya , amalan yang dirutinkan..?"

"Sebenarnya berat untuk saya katakan, tapi mudah-mudahan ada faedah dan pelajaran yang bisa diambil darinya."

"Selama ini, setiap malam, saya selalu berusaha untuk shalat tahajud. Dan di saat keheningan malam itu saya berdoa dengan pipi yang selalu basah, karena derasnya air mata saya mengalir. Saya hanyut dalam untaian doa yang panjang, meminta pada Allah, agar memberikan saya jalan keluar dan membuka pintu rezki untuk bisa pulang ke Indonesia menjenguk keluarga saya yang tertimpa musibah itu.

Saya hampir setiap hari ditelpon keluarga, diminta pulang. Tapi selalu saya jawab, "Saya tidak punya uang untuk pulang."

"Saya bingung harus meminta tolong pada siapa. Lama saya berpikir dan merenung, namun saya tak kunjung mendapatkan uang. Akhirnya, saya mengadu pada Allah. iya.. Hanya Allah tempat saya mengadu saat itu. Tak ada lagi tempat bagi saya meminta tolong dan menaruh pengharapan. Hanya Allah saat itu bagi saya yang bisa menolong saya dengan cara-Nya."

"Saya pasrah sepenuhnya pada Allah, pada Tuhan yang telah menciptakan saya. Saya sangat yakin, hanya Allah yang bisa menolong saya dalam keadaan yang sulit ini. Sungguh, makhluk tak bisa berbuat apapun jika Allah tak menghendaki."

"Sehingga akhirnya, Allah menunjukkan jalan keluarnya. Alhamdulillah atas nikmat yang besar ini. Saya merasa, seolah-olah laki-laki dari Arab Saudi yang tengah transit itu sengaja dikirim Allah ke Mesir untuk mengantarkan rezki pada saya. Allah sudah mengatur semua ini. Bahkan tatkala saya mencoba menelponnya agar bertemu dengannya pada pagi hari itu juga, ia mengatakan bahwa sudah berada di bandara untuk kembali melanjutkan perjalanan."

"Begitulah kisah Ust. Abu Anshar yang mengharukan dan penuh makna itu", ucap Ust. Hamdani menyudahi ceritanya.

Saya yang mendengar cerita itu dari ust. Hamdani juga merasa takjub dan ikut terharu. Sejaka saat itu Saya semakin yakin pada Allah. Saya akan memanjatkan berbagai permintaan pada Allah. Allah maha mendengar, maha tahu dengan kesulitan kita, maha melihat apa yang tengah menimpa dan kita rasakan. Ia mendengar rintihan suara kita, jerit tangis kita, doa-doa kita di penghujung malam. Ia tidak tidur dan tidak mengantuk. Ia selalu mengawasi dan mengatur alam semesta. Subhanallah, segala puji hanyalah bagi Allah.

Kokohnya kepasrahan dan keyakinan ust. Abu Anshar mengingatkan saya pada firman Allah dalam kitab-Nya yang mulia, Allah berfirman, "...Dan barangsiapa yang berserah diri pada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..." (QS at-Thalaq[65]: 3)

Saya juga teringat dengan firman Allah Swt dalam kitab-Nya yang mulia, Allah berfirman : "Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenakan bagimu." (QS al-Mukmin[40] : 60)

Dalam ayat lain Allah berfirman, "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan..." (QS an-Naml[27]: 62)

Dari Jabir ra., berkata : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya pada setiap malam ada satu saat, dimana tidaklah seorang muslim berdoa pada saat itu untuk kebaikan usrusan di dunia dan akhiratnya. melainkan Allah akan kabulkan permohonannya tersebut. (HR. Muslim)

NB: Cerita ini saya dengarkan lansung dalam sebuah pertemuan singkat, dari ust. Hamdani. Kisah ini adalah kisah nyata. Dan beberapa ilustrasi saya tambahkan untuk menjadikan ceritanya mengalir. Tapi, saya tidak merubah inti kisah nyatanya.

Semoga bermanfaat buat kita semua, terutama penulis pribadi, amin..

Salam ukhuwah

marif_assalman@yahoo.com

source: eramuslim.com

Lelaki Sejati : Talk Less Do More

oleh Fiyan Arjun
Minggu, 29/11/2009 07:37 WIB
Cetak | Kirim | RSS
Lelaki sejati ialah lelaki yang bisa menerima dan melawan rasa kecewa karena sakit hati.

Begitu kata kawan saya melalui pesan singkatnya di handphone saya. Entah kenapa ia bisa mengirimkan kata-kata itu membuat saya tergerak untuk membacanya...Hmm, ternyata boleh juga. Namun lebih boleh juga LAGI kalau kata-kata itu BISA mewakili diri saya. Namun ini tidak! Jauh dari pandangan saya tentang pengertian hal tersebut.

Namun tidak sampai disitu. Jalan di tempat saja. Saya tetap berusaha mencari tahu kebenaran pengertian yang dimaksudkan oleh kawan saya itu. Apakah seperti itu? Atau, hanya mengungkapkan egonya sendiri! Atau, jangan-jangan mungkin curhat colongan pula! Entahlah, tapi dengan pesan singkat itu membuat saya tergelitik untuk berusaha mencari pengertian sesungguhnya tentang lelaki sejati itu seperti apa.

Mbah Google. Ya, dia-lah dewa penolong untuk membantu saya—hingga saya mendapatkan berpuluh-puluh pengertian tentang lelaki sejati itu. Saya browsing dengan mengklik search dengan memakai juru kunci sebagai pembuka kata; lelaki sejati. Klik. Semua ada di depan mata minus saya. Namun sayangnya ternyata tak ada satu pun yang sreg dengan saya. Walau ada itu pun hanya segelintir yang bisa mewakili diri saya—dan ada pula yang menyesatkan. Tetapi secara benang merah tak ada secara spesifik menjelaskan apa pengertian lelaki sejati itu. Lagi-lagi itu membuat saya penasaran untuk mencari kembali lagi. Dan hasilnya tetap nihil!

”Lelaki sejati itu sih menurut gue yang bisa bikin anak!” celetuk kawan saya dari arah belakang ketika saya sedang asyik berselancar dengan Mbah Google. Dan jelas saya yang sedang asyik mencari lelaki sejati bersama Mbah Google saat itu jadi tercuri perhatian dengan celetukan kawan saya itu.

Begitu katanya. Spontanitas! Tanpa tendeng aling-aling.

Saya yang mendengar perkataan seperti itu langsung tersenyum kecut. Apalagi itu keluar di bibir hitam kawan saya yang dikarenakan pengaruh nikotin yang lama mengendap di bibirnya itu. Hingga akhirnya dengan terpaksa saya tolehkan kepala ke arahnya walau saat itu saya masih berdiam diri mematuti layar komputer.

Ya, kawan saya itu adalah penjaga warnet—dan saya juga sudah hafal dengan watak dan karakternya yang kalau bicara asal goblek dan suka berguyon ngasal pula. Dan warnet yang ia tunggu juga merupakan langganan saya pula—yang terdekat dari rumah jika saya tidak menggunakan hotspot secara gretongan di kampus tetangga sebelah. Memang orangnya yang saya kenal seperti itulah hingga saya berpikir untuk menjawab seperti khasnya pula. Tak ada saling menggurui!

”Itu sih lelaki sejati yang hanya memandang dari soal hasrat aja! Cuman pikirannya—maaf—ngesek melulu,” jawab saya singkat. Dan itu membuat ia tersenyum simpul malu dengan apa yang saya katakan.

Lalu apakah saya tidak membenarkan ucapan kawan saya itu? Tidak! Saya tak menghargai hasil pikirannya saat ia melontarkan hal itu? Saya katakan kembali, tidak!! Saya tetap menghargainya! Ya, walau tidak benar secara seratus persen ketika ia mengungkap hal seperti itu. Tapi itu membuat saya tahu bahwa cara pandang kawan saya itu tentang lelaki sejati—hanya terletak dari—maaf—menghasilkan anak saja. Hmm...sungguh sebuah jawaban yang membuat geleng-geleng kepala bahkan mengelus dada. Ada-ada saja.

Dus, dengan susah payah akhirnya saya menemukan pula sosok lelaki sejati yang sesungguhnya. Lama memang. Tapi saya senang bisa berselancar ria bersama Mbah Google walau lama akhirnya membuahkan hasil. Saya menemukan sosok lelaki sejati itu pada diri seorang hamba yang dimuliakan oleh umatNya. Sosok lelaki sejati itu ada pada diri Rasulullah. Nabi Muhammad SAW, suri tauladan umat muslim.

Adalah guru terbaik manusia. Itu tidak bisa dipungkiri lagi. Selain kemampuan beliau menyelami satu persatu karakter manusia di sekelilingnya menjadi satu point yang penting. Bukan itu saja selain menyelami dan mengenali, beliau juga berhasil memaksimalkan potensi-potensi yang ada tersebut menjadi kekuatan dahsyat saat itu. Menerangi kegelapan dunia ketika itu dengan cahaya-cahaya tauhid. Alhasil, adalah tujuh abad lamanya manusia benar-benar menjadi manusia. Manusia yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya dan mengetahui fungsi keberadaannya di dunia.

Selain Rasulullah SAW, dari sekian banyak sahabat beliau ada beberapa orang yang mempunyai kesan mendalam terhadap diri saya. Tentu saja tidak lepas dari dua hal utama; kekuatan karakternya dan sumbangsihnya terhadap Islam.

Mereka itulah yang patut diselepangkan selendang lelaki sejati di pundaknya. Ya, walau tidak mungkin bisa mencapai kualitas seperti manusia agung yang menjadi pemimpinnya, setidaknya kisah hidup mereka adalah coretan emas tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki hidup, berkarnya dan menghabiskan umurnya.

Itu satu sosok Rasulullah SAW—lelaki sejati yang sangat saya agungkan. Tapi ada satu sosok lagi lelaki sejati yang saya lupakan untuk disebutkan—yang menurut saya patut diselepangkan pula selendang bertuliskan ”lelaki sejati”. Tak lain dia-lah Ayah saya. Walau sekarang ia sudah tak ada di bumi lagi tapi bagi saya rekaman tentang betapa bijaknya beiau kepada keluarga hingga begitu gigihnya masih tersimpan rapi di benak saya. Kepala dijadikan kaki. Kaki dijadikan kepala. Begitulah selama saya mengenalnya semasa hidupnya. Sosok lelaki sejati yang sempat terlupakan oleh saya. Siang malam ia mencari sesuap nasi hanya karena semata-mata untuk mengebul asap di dapur dan serta-merta pula membahagiakan istri dan anak-anaknya dengan memberikan pendidikan yang layak tanpa berkeluh kesah. Apalagi banyak bicara. Hmm..., membuat saya menitikan airmata jika saya mengenal sosok lelaki sejati satu ini.

Begitulah. Saya menganggumi sosok lelaki sejati sesuai kriteria dan menurut saya. Bahwa mereka pantas dijuluki sosok lelaki sejati sesuungguhnya. Bukan saya! Saya yang terlalu banyak berkeluh kesah saat mendapatkan musibah dan ujian. Pun begitu dengan kawan saya yang memandang hanya hawa nafsu dan keduniawian belaka. Serta kawan saya yang mengirimkan pesan singkat yang terlalu sempit mengartikan arti sosok lelaki sejati hanya dapat menerima dan melawan rasa kecewa karena sakit hati. Terlalu melankolis dan sentimentil memang bila mendengarnya! Karena sesungguhnya lelaki sejati itu bukan hanya pintar bicara, omdo dan ombes (omong besar) melainkan sedikit bicara tapi banyak bekerja. Talk less do more. Halnya slogan iklan kretek yang sudah ter-mindset dibenak kita. Setuju?[fy]

Ulujami—Pesanggrahan, 24 November 2009
Masih di kamar penuh inspirasi

Tulisan ini saya persembahkan untuk saudara saya sebagai hadiah persahabatan—yang sudah membuka hati saya tentang sosok lelaki sejati itu. Ehem, susah memang menjadi lelaki sejati itu terkadang perlu belajar banyak untuk mencapainya. Bukan begitu? Semoga.

source: Eramuslim.com
oleh: bujangkumbang@yahoo.co.id

Kenikmatan Sesaat

oleh Halimah
Senin, 30/11/2009 13:52 WIB
Cetak | Kirim | RSS
Kenikmatan menunaikan ibadah haji tak akan terlukiskan dengan kata-kata. Sungguh banyak orang yang telah menunaikan rukun yang kelima tersebut, ternyata perlu banyak pendengar untuk membuncahkan semua kenikmatan yang telah di rasakannya. Bahkan setelah bertahun telah pulang, dan kembali ke rumah mereka di tanah air, mereka masih merasakan betapa ke-Agungan Allah yang menghampiri dan membuai mereka untuk selalu dekat kepada sang Khalik.

Maka berbahagialah bagi orang yang telah menunaikan haji. Karena masih banyak sekali orang yang mampu secara finansial, tapi masih merasa tak punya panggilan untuk menjalani. Betapa banyak pula yang merasa tak sanggup menjalankan prosesi itu, karena merasa diri mereka masih jauh dari ajaran agama ini. Kemudian ada beberapa orang yang menghindari naik haji, karena takut “pembalasan” di tanah suci,

Memang wajar lah jika banyak hal yang membuat kita berpikir, untuk menunaikan haji ke tanah suci. Karena banyak cerita yang sampaikan oleh orang-orang yang sepulang dari haji. Diantara cerita itu, ada yang kena pukul. Ternyata dia ingat, bahwa dia pernah memukul seseorang karena emosi. Ada pula yang kehilangan uang, dan mereka pun berpikir bahwa mungkin uangnya masih belum tersentuh zakat. Masih banyak hal yang ceritanya lebih membuat kita khawatir. Tapi semua itu jangan lah menjadikan kita untuk urung melaksanakan haji. Karena memang naik haji adalah sebuah kewajiban bagi kita, untuk menggenapkan rukun Islam yang kelima.

Jika diatas saya menceritakan tentang orang yang takut naik haji, maka selanjutnya saya menceritakan pula betapa banyaknya orang yang ngotot naik haji, bahkan untuk beberapa kali dalam hidupnya. Mungkin orang yang sangat ngotot ini, memang merasakan sebuah kenikmatan tiada taranya bila dia berada dalam lingkaran suasana berhaji di tanah suci.

Beberapa tahun yang lalu, ada seorang ibu yang kebetulan secara financial bukanlah orang yang mampu. Tapi ibu ini ternyata telah naik haji, dengan banyak usaha. Diantaranya jualan kue maupun penganan kecil lainnya, yang dijajakan pada tetangga maupun ke handai taulan. Dia berjualan sambil bersilaturahim. Memang usianya cukup lanjut, sekitara 60 tahunan. Tapi semangatnya untuk memenuhi panggilan Allah patut di acungi jempol.

Jika melihat semangat ibu itu, maka tentu saja saya malu hati. Ibu yang sudah janda ini dan hanya punya seorang anak, untuk kehidupan sehari-harinya pun sarat dengan kekhawatiran akan perut yang tak terisi. Tapi tekad dan impiannya untuk naik haji untuk kedua kalinya masih mengebu pula. Hingga pada suatu waktu dia bertandang ke rumahku ( karena telah pindah rumah yang letaknya agak jauh dari rumahku ), maka mulailah kami bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Dia datang tentu saja dengan barang dagangannya, berupa kue camilan.

Cerita pun mengalir, dan akhirnya bermuara pada sebuah keluhan. Keluhan tentang dia memerlukan modal berjualan, karena minggu lalu dia telah menyetorkan uangnya ke bank untuk mendaftarkan diri naik haji. Tentu saja dia bercerita dengan sedikit halus, agar tidak kentara untuk meminjam duit. Saya pada saat itu pura-pura tidak begitu tahu arah pembicaraannya. Dan, akhirnya dia pun pulang tanpa mampu mengucapkan keinginannya lagi.

Jika dibilang saat itu saya pelit, tak lah mengapa. Tapi yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah bagaimana sang ibu ini berusaha untuk naik haji lagi, padahal dalam kehidupan sehari-harinya terlihat biasa saja. Harapan saya tentu saja, orang yang telah naik haji dapat terlihat perbedaannya. Minimal dalam sikap kesehariannya. Sementara ibu ini, masih merokok, bicara pun masih kasar dan tak ada tanda-tanda bahwa dia dapat diharapkan jadi panutan lingkungannya. Mungkin dia merasakan kenikmatan saat melaksanakan prosesi haji, tapi sayangnya, setibanya di tanah air, kenikmatan itu tidak di peliharanya.

Kenapa saya katakan demikian? Karena seperti sebuah tanaman, maka nikmat iman harus selalu dijaga. Saat di tanah suci, imannya tepat berada di puncak. Tapi begitu di tanah air, iman akan melorot serendah-rendahnya karena tak ada siraman rohani yang rutin untuk menjadikannya tetap istiqomah ( minimal tidak turun drastis ) seperti yang terjadi saat melaksanakan haji. Hanya banyak cerita perjalanan hajinya yang disuguhkannya kepada kami. Sayang sekali, cerita-cerita itu tidak membuatnya lebih intens dalam memperbaiki dirinya sepulang dari ber-haji.

Ada pula cerita-cerita yang beredar, bahwa untuk beberapa kalangan, haji adalah sebuah symbol derajat. Derajat yang membuat penyandangnya tak ingin di remehkan. Untuk tipe seperti ini tentu saja membuat saya kadang geli di hati. Bayangkan saja, ada seseorang yang telah berstatus hajjah, tak ingin namanya maupun panggilannya tertinggal status “hajjahnya” tersebut. Bila kita memanggilnya sepertinya tak perlu memanggil namanya, tapi panggilah dia dengan haji maka terlihat senanglah wajahnya. Tapi bila tidak? Tunggu saja reaksinya yang tidak mengenakkan.

Memang sih bila segala sesuatu itu tergantung dari niatnya. Jadi jika naik haji untuk meraih status social yang lebih, maka dia hanya akan mendapatkan status itu, bukan yang lain. Sungguh disayangkan tentu saja. Begitu banyak uang yang dkeluarkan dan betapa perjalanan haji memerlukan tenaga yang super ekstra, tapi hasilnya hanya untuk sedemikian kecilnya. Mungkin ini berlaku karena seseorang ini tidak mengetahui benar, apa dan makna apa sebenarnya yang harus kita teladani selama berhaji.

Hingga ada seorang pengusaha Cina ( info dari seorang saudara ) di Samarinda berkata, “ dulu jika orang telah haji, bisa di percaya. Tapi saat ini saya tidak punya kepercayaan lagi. Banyak haji yang berutang, tapi sangat susah bayarnya.” Maknanya tentu saja bahwa status haji nya seseorang bukan lagi tolok ukur untuk jaminan kejujuran seseorang. Haji yang disandangnya, tidak membuatnya lebih baik lagi. Sebuah keadaan yang sangat disayangkan.

Memang patut disayangkan, bila setelah kita pulang dari naik haji, kita tidak menjadi lebih baik. Prosesi yang dijalankannya pun selama berhaji, adalah hanya untuk kenikmatan sesaat. Padahal pelaksanaan haji di perintahkan oleh Allah Swt. agar kita menjadi orang yang benar-benar dapat mengambil hikmahnya. Karena dalam prosesi haji itu banyak sekali hikmah yang dapat kita petik dan insya Allah dapat membuat kita menjadi orang yang lebih tawadhu dari sebelumnya. Keimanan yang lebih mantap, amal sholeh yang semakin banyak dan tentu saja jiwa sosial yang lebih baik dari sebelumnya, itulah sebuah refleksi dari haji yang mabrur.

( Ya Allah… berilah kemudahan kepadaku dan keluargaku untuk dapat memenuhi panggilan-Mu ke Baitullah. Amin.)



Sengata, 28 Nopember 2009

Halimah Taslima

Forum Lingkar pena ( FLP ) Cab. Sengata

halimahtaslima@gmail.com